MATARAM - Kini, sejak tumbuh berkembangnya usaha budi daya mutiara, telah menjadikannya sebagai ikon Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak akhir 1990 memang bermunculan pengusaha industri kerajinan perhiasan mutiara yang utamanya diminati oleh kalangan kaum berada. Ini terjadi setelah munculnya wisatawan nusantara maupun mancanegara yang menjadikan belanja perhiasan mutiara sebagai salah satu rencana pelesirannya di Mataram.
NTB memang sudah dikenal sebagai penghasil mutiara. Setahun yang lalu, 2007, hasil ekspornya terbesar diantara komoditi yang dihasilkan NTB selain konsentrat tembaga hasil tambang PT Newmont Nusa Tenggara. Mutiara yang dihasilkan perusahaan budi daya mutiara yang ada di pulau Lombok dan pulau Sumbawa yang diekspor ke Jepang, Australia, Italia dan Hongkong mencapai 0,47 ton senilai US $ 4.012.997,929.
Di NTB terdapat 35 perusahaan budi daya mutiara yang dilakukan di perairan pulau Lombok dan Sumbawa. Banyaknya perusahaan yang melakukan usaha budi daya mutiara ini, mengingat lingkungan perairan lautnya masih bersih. Sehingga tersedia sumber makanan sehingga pertumbuhannya lebih bagus. NTB memiliki potensi areal seluas 25.000 hektar yang hingga kini memiliki potensi produksinya 3,72 ton
Kwalitas ekspor mutiara ada 5-7 grade yang didasarkan lima faktor : ukuran, bentuk, warna, sinar dan mulusnya permukaan. ”Warnanya kuning, ukurannya 10 mili dan bundar tidak ada cacatnya itu kelas A,” kata Francesco Bruno, Direktur Utama PT Autore Pearl Culture - sebuah perusahaan modal asing asal Australia. Apabila tidak terlalu bersih dikategorikan B1.
”Mutiara di sini terbagus di dunia. Karena bercahaya. Dihasilkan dari laut yang bersih. Jepang pun mendapatkannya dari sini,” kata Farida Ellyana - seorang Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan kepada LombokNews, Selasa (07/10).
Pernyataan pujian sendiri itu, dikutipnya dari beberapa kali pameran yang diselenggarakan di berbagai lokasi mulai dari Ausltralia hingga Singapura. Jepang saja yang awalnya menerjunkan pekerja teknisi operasional budi daya mutiara tersebut, banyak mendapatkan kiriman ekspornya dari NTB. ”Jepang saja ambil dari sini,” ujarnya kemudian.
Kordinator 35 pedagang retail Sri Suhada menyebutkan Nusa Tenggara memang dikaruniai bisa menghasilkan mutiara warna gold - keemasan - bukan sekedar silver yang dikenal dihasilkan dari Ambon. Sri Suhada yang memiliki Galeri Mutiara Sari di Jalan Raya Senggigi 18 Meninting menyebutkan penjualannya setahun mencapai lebih Rp2 miliar. ”Saya melayani buyer dari Jepang dan Eropah,” katanya.
Mereka sekali setiap enam bulan belanja miliaran rupiah. Karena itu, ia memiliki persediaan mutiara hingga mencapai 10 kilogram yang didapatnya melalui pelelangan dari perusahaan penghasil mutiara budi dayas se Indonesia. Ia selama ini lebih banyak menjual Loose Pearl (mutiara butiran).
Untuk berbelanja dalam bentuk perhiasan kalangan menengah ke atas, cobalah datang ke Boutique Lombok Pearl Collection (LPC) yang terletak di Jalan Ahmad Yani No.2 Selag Alas Mataram. Berada di jalur strategis perjalanan wisatawan dari arah kawasan wisata Senggigi di Lombok Barat yang hendak mendatangi obyek tenunan Sukarara atau melihat indahnya perairan Teluk An di Lombok Tengah. Di antara enam retail yang ada di sepanjang jalur tersebut bisa disebut boutique ini satu dari dua boutique mutiara berkelas atas diantara 35 pedagang retail yang bersertifikat keaslian mutiaranya.
Di sana semua pilihan disiapkan baik South Sea yang dihasilkan dari air laut tropis, Salt Sea (air payau) atau yang berasal dari air tawar maupun mutiara hitam yag berasal dari Tahiti. Intinya semua sama, mutiara yang dihasilkan dari nucleus (mutiara hasil suntikan). LPC terbuka 365 hari dalam setahun - tidak ada hari libur - dan setiap harinya dibuka mulai pukul 09.00 hingga 18.00 Waktu Indonesia Tengah.
Pemilik LPC Lalu Rizvi, 43 tahun, mengatakan sejak 2001 kehadiran boutiquenya yang berada di ruang seluas 100 meter persegi itu untuk menawarkan segmen yang berbeda dengan kwalitas yang diunggulkan. Ada seuntai kalung berisi 38 butir mutiara yang dibuka dengan harga Rp42 juta. Ini dihitung berat dan grade A dari mutiaranya. Atau sebuah anting berangka emas yang harganya US $ 500. Tetapi ada juga sebuah cincin mutiara yang bisa dibeli dengan harga hanya Rp100 ribu.
Di sini, sehari bisa kedatangan 30 orang pengunjung utamanya pada hari libur atau akhir pekan - Jum’at dan Sabtu, yang belanjaannya tentu bervariasi sesuai kelas mutiara yang menjadi pilihannya. ”Omsetnya bisa sekitar semiliar rupiah setahun. Tergantung kedatangan wisatawan,” katanya menjawab konfirmasi LombokNews.
Biasanya, wisatawan nusantara utamanya dari Jakarta banyak memborong jualannya. Utamanya, mereka yang melakukan kunjungan kerja atau melakukan pertemuan nasional di Senggigi. Kadang seorang pembelanja bisa membayar US $ 1.000. Maka tidak heran kalau fasilitas gesek uang plastik Visa, Mastercard ataupun American Express untuk memudahkan transaksi disiapkannya.
Untuk keperluan jualannya itu, Rizvi mendapatkan mutiaranya dari suplier yang juga membantu konsultasi tren model rangka perhiasan yang sedang diminati dari Eropah atau Asia. Jadi umumnya rangka kalung atau anting-anting yang terbuat dari emas putih maupun perak yang pekerja tukangnya tinggal memadukan mutiaranya.
Di Jalan Jenderal Sudirman Sayang-Sayang juga ada M & L Pearls Collection yang baru setahun membuka usahanya di ruang lokasi seluas 120 meter persegi di atas tanah seluas empat are. Seorang staf di sana, Haji Awan, mengaku 100 persen mengharapkan tamu yang belanja orang luar daerah. Ada tersedia kalung rantai silver atau emas putih bentuk sliding seharga Rp1 juta atau gelang seharga Rp6 juta atau cincin seharga Rp3 juta. Ada pula bentuk grading yang butiran mutiaranya bersusun tiga ditawarkan Rp6 juta. ”Di sini harganya bisa diskon sampai 10 persen,” ujar Awan. M& L juga melayani pembelian butiran mutiara yang - beratnya 1-4 gram - harga per gramnya Rp300an ribu.
Kordinator pedagang retail di Nusa Tenggara Barat Sri Suhada yang memiliki Galeri Mutiara Sari di Jalan Raya Senggigi 18 Meninting, menjelaskan 35 pengusaha yang dihimpunnya adalah yang pangsa pasarnya high class.
Budi daya mutiara
Salah satu produsen mutiara hasil budi daya adalah PT Autore Pearl Culture, sebuah perusahaan penanaman modal asing asal Australia. Autore, demikian perusahaan milik pengusaha asal Sidney Australia itu disebut, sudah tiga terakhir ini membuka enam lokasi budi daya yang tersebar di Lombok dan Sumbawa. Keseluruhannya rata-rata setahun menghasilkan 80.000 butir seharga rata-rata per butirnya US $ 25. ”Kami kirim dulu ke Australia baru disebarkan ke Amerika, Eropah dan Timur Tengah,” ucap Francesco Bruno, pria Italia, 36 tahun selaku direktur utama Autore yang sudah 12 tahun di Mataram. Sebelumnya ia sudah bekerja pada perusahaan Kosuma - yang diambil alih Autore tiga tahun lalu.
Kehadiran Autore yang menempati tiga terbesar perusahaan budi daya mutiara di NTB ini, melibatkan 360 orang pekerja tetap lokal dan apabila dibutuhkan menambah pekerja harian temporer hingga 100 orang pada waktu pemeliharaan siput (kerang) mutiara.
Untuk menghasilkan mutiara memerlukan waktu hingga 5-6 tahun. Awalnya adalah melakukan breeding hingga bisa dilakukan insersi (suntik) selama dua tahun. Untuk dapat menghasilkan 80.000 butir setahun harus menyediakan tiga kali lipat jumlah siput yang harus disuntik Karenanya, investasi yang dibutuhkan sebuah perusahaan budi daya mutiara ukuran kecil minimal harus menyediakan 30.000 siput yang dananya mencapai Rp5 miliar dan yang besar lebih dari 100.000 ekor yang investasinya mencapai Rp20 miliar.(supriyantho khafid)


