MATARAM – Sembilan jembatan untuk membuka isolasi ruas jalan provinsi di selatan Sumbawa senilai lebih Rp100 miliar hibah tahap pertama Pemerintah Jepang selesai dibangun. Masih ada 15 unit lagi yang harus dibangun tahap kedua, tetapi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara diminta untuk menanggulangi sendiri pembiayaan enam jembatan yang bentangannya di bawah 21 meter.
Konsultan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) Iraghasi melaporkan selesainya jembatan di ruas jalan provinsi selatan Sumbawa kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Madjdi, Jum’at (24/10) pagi. ‘’Mereka datang melaporkan selesainya jembatan tahap pertama. Untuk tahap kedua diminta membiayai sendiri yang enam jembatan,’’ kata Zainul Madjdi kepada wartawan, Jum’at (24/10) siang.
Jembatan yang dibutuhkan untuk membuka isolasi jalan sepanjang 80 kilomter antara Sejorong, Tatar dan Lunyuk itu hasil hibah Pemerintah Jepang tersebut, dibiayai dan dikerjakan sendiri oleh kontraktor Jepang. ‘’Ini sepertinya dibuat di Jepang dan dipindahkan ke sini,’’ ujar Zainul menyebutkan proyek jembatan untuk membuka isolasi selatan pulau Sumbawa tersebut. Jembatan tersebut ada diantaranya yang lima unit biayanya mencapai Rp80 miliar.
15 unit jembatan yang menjadi hibah Pemerintah Jepang tersebut memiliki bentangan hingga 35 meter tanpa tiang tengah untuk penyanggah. Lebarnya mencapai enam meter tapi ada diantaranya yang alasan teknis lebarnya hanya bisa 4,5 meter.
Zainul Madjdi sendiri menyanggupi akan mengupayakan perolehan dana APBD NTB 2009 maupun APBN untuk dibangunnya enam jembatan yang tidak ditanggung Jepang. Juga diupayakan dibukanya jalur utara Kabupaten Bima mulai dari Jatibaru lewat Wera ke Sape.(supriyantho khafid)


