MATARAM – Penyaluran kredit di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih lebih besar untuk keperluan konsumtif. Sampai dengan Agustus laslu, jumlahnya mencapai 57,91 persen dari sejumlah Rp6,7 triliun yang diberikan melalui perbankan di NTB. Untuk modal kerja hanya 35,8 persen, investasi 6,29 persen.
Dirinci berdasarkan sektor ekonominya penggunaan kredit disalurkan untuk sektor lain-lain 58,4 persen. Sedangkan untuk perdagangan, restoran dan hotel sebesar 30,3 persen, jasa dunia usaha 4 persen dan pertanian sebanyak 3,2 persen.
Pemimpin Bank Indonesia Mataram Tri Dharma mengemukakannya pada Workshop Kebanksentralan Wartawan Ekonomi di Gili Trawangan Lombok Barat, Sabtu (18/10) siang. ‘’Belum jelas apakah bank yang tidak berani menanggung resiko kredit macet atau masyarakat pengusaha tidak membutuhkan pembiayaan,’’ katanya sewaktu sesi tanya jawab.
Ia menegaskan akan mendorong perbankan di Mataram untuk lebih banyak melakukan pembiayaan sektor riil. Utamanya mendukung pengembangan kawasan ekonomi terpadu guna meningkatkan produksi komoditi unggulan seperti jagung, rumput laut, bawang merah dan sapi.
Kredit konsumtif diduganya kemungkinan juga digunakan untuk kepentingan usaha : ojek atau usaha gerobak dan angkot.
Mengenai kredit usaha rakyat (KUR), penyaluran sampai Agustus 2008 lalu juga telah mencapai Rp75,7 miliar, cukup cepat dibanding sampai dengan Maret 2008 yang baru sebesar Rp14,6 miliar.(supriyantho khafid)


