MATARAM – Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Nusa Tenggara Barat (Kadinda NTB) Lalu Rizvi meminta Pemerintah Provinsi NTB melakukan promosi satu pintu untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Sebab, kunjungan wisatawan ke NTB jauh tertinggal dibanding sudah meledaknya angka kunjungan wisatawan ke Bali.
Tahun 2007 lalu kunjungan wisatawan ke Bali sudah mencapai 5,7 juta orang pengunjung walaupun pernah terpuruk akibat dua kali terjadinya teror bom. Target 2008 ini Bali dikunjungi 6,2 juta orang. Sedangkan NTB baru didatangi 500 ribu orang saja.
Lalu Rizvi yang juga pengusaha boutique mutiara Lombok Pearl Collection meminta terpadunya promosi wisata NTB tersebut karena selama ini masing-masing pelaku pariwisata dan industri berjalan terpisah. ‘’Promosi harus satu pintu. Tidak lagi masing-masing jalan sendiri,’’ ujarnya, pagi ini.
Ia yang membidangi perdagangan dan industri di Kadinda NTB tersebut mengemukakan kelesuan perdagangan retail perhiasan mutiara di daerahnya yang tergantung kunjungan wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara. ‘’Bali itu sudah kewalahan dikunjungi wisatawan. Kita masih sepi,’’ katanya.
Di Mataram ada 35 boutique retail mutiara selain toko perhiasan mutiara di sentra pengrajin emas di Sekarbela Mataram. Kalau wisatawan bertambah besar, industri kerajinan perhiasan emas dan mutiara akan bisa meningkatkan penjualannya lebih besar dari Rp1 miliar setahun setiap pengusahanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik NTB Mariadi Mardian merilis angka kunjungan wisatawan selama tujuh bulan terakhir baru 102.551 orang. Wisatawan nusantaranya 78.191 orang dan wisatawan mancanegara 24.360 orang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu Gita Ariadi berjanji akan bekerja sama dengan masing-masing daerah kabupaten-kota dan para pelaku pariwisata untuk memajukan wisata konvensi yang ternyata sangat menguntungkan pertumbuhan hunian hotel dan dampaknya terhadap industri kerajinan termasuk perhiasan mutiara yang telah menjadi ikon Lombok NTB. Pemerintah Provinsi NTB akan menjaga citra daerah tujuan dan Pemerintah Kabupaten-Kota menjaga citra obyeknya. Sedangkan pelaku pariwisata menjaga citra produknya. ‘’Kami segera konsolidasi,’’ ujar Gita Ariadi.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) NTB Awan Aswinabawa mengakui akan ikut mengupayakan kelemahan akses wisata yang dikatakan masih sulit menjangkau Lombok. ‘’Ini pasti harus ada yang dibenahi, ‘’ katanya. ASITA juga akan meningkatkan promosi destinasi produk andalan yang ditawarkan.(supriyantho khafid)


