MATARAM – Setahun terakhir, di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSJ NTB), terus meningkat kenaikan pasien rawat inap penderita gangguan jiwa mencapai 17,21 persen dan pasien rawat jalan rawat inap 22,93 persen. Dari keseluruhan kunjungan yang mencapai 9.206 orang, hampir separonya atau 48,29 persen adalah kelompok umur produktif 25- 44 tahun.
Hasil survey kesehatan mental rumah tangga menemukan bahwa 185 dari 1.000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukkan adanya gejalan gangguan kesehatan jiwa. Gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas adalah 140 per 1.000 penduduk dan 5 -14 tahun adalah 104 per 1.000 penduduk.
Kepala RSJ NTB Elly Rosila Wijaya menjelaskan peningkatan penderita gangguan jiwa tersebut, dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se Dunia, di Mataram, Jum’at (10/10). ‘’Mereka yang mengalami gangguan jiwa baru dibawa konsultasi setelah putus asa,’’ ujarnya kepada wartawan sewaktu menyampaik rilis di kantor Gubernur NTB.
Keluarga penderita yang sudah merasa putus asa, kebanyakan melakukan pemasungan. Hampir 103 kecamatan se NTB terjadi pemasungan. Padahal semestinya penderita gangguan jiwa secepatnya melakukan konsultasi ke RSJ atau psikiater bukan mendatangi dukun yang diharapkan bisa menyembuhkannya.
Saat ini, di RSJ NTB rata-rata penderita yang melakukan rawat jalan 50 orang dan yang menjalani rawat inap sebanyak 50 orang sesuai tempat tidur yang terisi. Sebagian besar disebabkan oleh kemiskinan. Mereka sebanyak 70 persen merupakan pasien yang menggunakan fasilitas Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin, 15 persen didukung Asuransi Kesehatan Sosial untuk pegawai negeri sipil dan lainnya masyarakat umum.(supriyantho khafid)

