MATARAM - Tingkat kesejahteraan petani di pedesaan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Juli 2008 lalu tercatat masih rendah. Secara gabungan petani padi palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat dan peternakan hanya memiliki kemampuan berbelanja sebesar 99,27 persen. Secara terinci petani hortikultura lebih mampu karena memiliki nilai tukar 111,65 persen dan petani peternak yang nilai tukar 105,2 persen. Sedangkan petani padi palawija tercatat 97,86 persen dan nelayan terendah 87,5 persen.
Rendahnya tingkat kesejahteraan petani NTB tersebut disebabkan tingginya biaya produksi yang menjadi beban petani dibanding rendahnya harga jualnya. ”Sehingga para petani terpuruk, ” kata Kepala Badan Pusat Statistik NTB Mariadi Mardian, Kamis (9/10) pagi.
Selain rendahnya kesejahteraan petani, Mariadi Mardian juga mengemukakan adanya inflasi hingga 1,10 persen di pedesaan tujuh kabupaten se NTB. Kenaikan indeks harga di tujuh kelompok bahan makanan (1,26 persen), makanan jadi, minuman dan rokok (1,71 persen), perumahan (0,73 persen), sandang (1,15 persen), kesehatan (0,58 persen), pendidkan, rekreasi dan olahraga (0,85 persen), transportasi dan komunikasi (0,05 persen).(supriyantho khafid)

