MATARAM - Acara tahunan tradisi lebaran Topat (hari raya ketupat) khas masyarakat Sasak Lombok akan berlangsung sepanajng Rabu (8/10) siang ini, di berbagai tempat di Lombok. Diperkirakan puluhan ribu orang akan memadati jalanan sepanjang pantai barat mulai dari Ampenan hingga Senggigi. Mereka berdatangan dari berbagai desa se pulau Lombok, santai di pinggir pantai setelah melakukan ziarah di makam-makam yang dikeramatkan sebagai makam tokoh-tokoh Islam.
Tradisi rakyat sebagai event budaya ini untuk membagi kerumunan warga oleh Pemerintah Kota Mataram akan dipusatkan di tiga lokasi yaitu pertama di makam Loang Baloq yang dihadiri oleh Walikota Mataram Moh.Ruslan. Di lokasi kedua, makam Bintaro oleh Wakil Walikota Ahyar Abduh dan ketiga di eks Pelabuhan Ampenan diselenggarakan panggung terbuka hiburan terbuka sepanjang hari.
Di Kabupaten Lombok Barat, sebagai tahun-tahun sebelumnya, diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Pantai Batu Layar yang mengundang Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Madjdi dan para wisatawan mancanegara yang berlibur di Senggigi. Kali ini adalah lebaran topat ke-18 yang dirayakan menjadi major event kepariwisataan, penyebaran lokasi dilakukan di berbagai kawasan wisata pantai mulai dari Sire dan Medana Tanjung di utara, Senggigi di tengah barat, Induk dan Cemara Tebel Gerung di selatan dan Taman Narmada, Suranadi dan Sesaot di timur. Acara yang akan dipimpin oleh Wakil Bupati Izul Islam pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah diawali dengan ziarah makam Batu Layar, dzikir dan doa. ”Ini kekayaan budaya yang patut dipertahankan dan dikembangkan sebagai potensi wisata budaya,” kata Basirun Anwar - Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Lombok Barat kepada LombokNews, Rabu (8/10) pagi.
Tradisi masyarakat berlebaran topat semula memang hanya datang bersenang-senang di pinggir pantai setelah melakukan ziarah ke makam yang dianggap keramat. Ada makam Anak Tiwuk di Teluk Lembar, makam penyebar Islam Gaos di Loang Balok yang mati terbunuh oleh orang yang tidak mau menerima ajaran Islam yang dibawanya, makam Bintaro di pantai Ampenan yang merupakan kubur ulama-ulama Islam dan tokoh pejuang Saleh Sungkar, makam Batu Layar yang sebenarnya merupakan tempat mendaratnya Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami sekitar abad 17 dan kubur istrinya sebagai makam penyebar Islam di Lombok yang letaknya pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut yang berada di depannya. Di daerah paling utara Lombok Barat ini ada pula makam Medana di Tanjung yang semasa hidupnya Amaq Dana dikenal sebagai orang yang berjasa dan dermawan.
Masyarakat sendiri dalam kunjungan ziarah melakukan zikir dan berdoa. Ada pula yang memiliki hajat Nguris Rambut anak bayinya disertai Zikir Serakal (membacakan lagu pujian kepada Nabi Muhammad yang diambil dari Kitab Al Barzanji. Seusai serakal lalu dilanjutkan dengan menyimbik yaitu menorehkan pada dahi, siku tangan, lutut dan ibu jari kanan menggunakan kunyahan kapur, buah pinang dan daun sirih yang sebelumnya diletakkan di atas kubur makam yang dianggap keramat. Di sana pula air rendaman bunga rampe digunakan untuk menyuci muka anak yang dihajatkan. Seusai acara inilah mereka kemudian makan ketupat bersama.(supriyantho khafid)


