MATARAM - Namanya menu khas Lombok ini Pelecing Kangkung. Sebenarnya bukan khas untuk makanan di bulan Ramadhan. Tapi merupakan menu umum sehari-hari orang Sasak di Lombok. Namun, bagi warga Lombok, utamanya perempuan Sasak, ternyata Pelecing Kangkung ini tetap menjadi menu yang tidak bisa dilewatkan oleh sebagian warga di Lombok.
Setidaknya, seorang warga Kelurahan Pagutan di Mataram, Fairuzzabadi. Pembuka selera makan dengan rasa pedas. ”Ngempet elor lamun gitak pelecing,” ujarnya yang berarti sampai keluar air liur kalau melihat pelecing kangkung ini.
Bahannya terdiri dari kangkung, busbusan (tauge) dan jambah (kacang ijo yang direndam air dingin semalaman). Untuk pelengkap diberikan sambal Nyiuh (kelapa yang dibakar terlebih dahulu kemudian diparut atau dioseng supaya tahan lama beberapa jam). Sambal Pelecing dibuat dari bahan terasi, lombok, tomat dan garam.
Lainnya, menu yang mirip adalah Serebuk (urap). Bahannya kacang panjang, busbusan (tauge), kendokak (kecipir), paku (pakis). Ada juga pakai sayur-sayuran lain seperti kol (kubis) atau daun turi. Bumbunya sambal kelapa. Waktu disajikan ditaburi Embe (bawang goreng) untuk menambah nikmatnya.
Nah, untuk berbuka puasa terlebih juga merupakan menu yang tidak dilupakan oleh warga di Lombok, adalah Penget atau Pulek yang bisa disebut juga sebagai kolak karena ditambahi kuah. Dibuatnya dari Ambon (ubi jalar) dan pisang, ditambahi kelapa yang diparut dan gula tapi tanpa kuah seperti kolak. Fairuzzabadi sendiri menganggap Penget sebagai makanan pilihan sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad SAW agar memakan yang manis.
Penget atau Pulek (juga kolak karena pakai kuah) ini yang banyak dijual dalam kantong-kantong plastik, tidak bisa tidak menjadi menu yang dipilih oleh Atik alias Usin, seorang perempuan di Kampung Pelita Kelurahan Dasan Agung. ‘’Saya tidak bisa minum es. Jadi tidak bisa tidak harus ada penget,’’ ujarnya.(supriyantho khafid)


