MATARAM – Tiga pelabuhan yang dapat disinggahi kapal besar di Nusa Tenggara Barat (NTB) ternyata dinyatakan belum layak secara komersial sebagai pelabuhan ekspor. Sebab, ketersediaan volume angkutan belum tersedia untuk memenuhi kapasitas muat kapal. Karena itu, yang paling mudah melakukan ekspor NTB melalui Surabaya.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan NTB Soekartadji Anwar kepada Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang melakukan kordinasi dengan kalangan pengusaha di kantor Gubernur NTB, Sabtu (13/9) siang. Kalau diminta back up ekspor, tiga pelabuhan di NTB sudah siap. ‘’Yang jadi problem ketersediaan komoditinya. Sebab kapasitasnya besar,’’ ujar Soekartadji.
Disebutnya Pelabuhan Lembar di Lombok, Pelabuhan Badas di Sumbawa Besar dan Pelabuhan Bima di Bima telah mampu disandari kapal untuk keperluan ekspor. Di sana sudah seringkali dilakukan pengapalan komoditi ekspor. Misalnya dari Badas sudah dilakukan pengapalan jagung.
Selama ini, Lombok juga menghasilkan komoditi ekspor kerajinan yang diekspor ke mancanegara diantaranya gerabah yang hanya bisa dipenuhi setiap tiga bulan. Karena itu ia mengatakan bahwa peti kemas yang tersedia hanya bisa dijadikan penumpukan barang.
Selama ini masyarakat pengusaha menginginkan bisa melakukan ekspor langsung dari daerahnya sendiri, bukan melalui pelabuhan antara di Bali atau Surabaya. Mari Elka Pangestu yang bersuamikan warga Mataram juga mengetahui NTB memiliki potensi industri kerajinan, hasil bumi diantaranya vanili dan juga mutiara. ‘’Ya volume barangnya terlalu sedikir. Ini jadi seperti ayam dan telur,’’ katanya.(supriyantho khafid)


