MATARAM – Kamis (11/9) malam itu, sejumlah perempuan tengah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Mereka memulai dari awal. Sehari sebelumnya, untuk tahap pertama, mereka sudah khatam (menyelesaikan) 114 surat atau 30 juz isi Al Qur’an selama bulan Ramadhan kali ini.
Itulah yang dilakukan oleh empat kelompok kelayan yang sedang dibina oleh Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Budi Rini di Selag Alas, sekitar lima kilometer arah timur dari tengah kota Mataram. Kelayan, adalah para wanita tuna susila (WTS) yang sebelumnya telah dijaring dalam razia oleh Polisi Pamong Praja ataupun polisi se kabupaten-kota di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Suara lembut dan merdu berasal dari Patmah, 30 tahun, bukan nama sebenarnya, asal NTB. Juga yang lainnya, Rahma, 27 tahun. ‘’Mereka yang ikut tadarus ini salat dan mengajinya lancar,’’ kata Kepala PSKW Budi Rini Hajah Turyani Wismaningsih, alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung, 1986, yang mengaku bingung mengetahui keterampilan dan kemampuan beribadah kelayannya, kepada Tempo.
Tadarusan dilakukan oleh empat kelompok kelayan tersebut masing-masing 8-9 orang didampingi oleh seorang pekerja sosial fungsional. Kelompok perempuan ini secara bergilir melakukan Tadarusan selepas salat Tarawih selama bulan Ramadhan. Mereka yang bisa disebut dari kelas kalangan bawah berusia 18-40 tahun.
Seorang diantara mereka, Siti Mariani, 25 tahun, juga bukan nama sebenarnya, sudah lebih dari enam bulan di sana mengaku senang bisa menjalani puasa dan menjalankan ibadah. ‘’Ini kesempatan menjadi orang yang baik,’’ ucapnya. Memang diantara mereka yang sudah cukup lama berada di sana, terlihat cerdas dan menonjol ditunjuk sebagai ketua kelas.
Saat ini, ada 51 orang WTS penghuni PSKW Budi Rini. Ada diantaranya dua orang yang non muslim berasal dari Kalimantan dan Bali. Namun yang muslim pun ada yang tidak menjalani puasa. Diduga karena tidak biasa puasa atau halangan yang lainnya. Banyak alasan yang menyebabkan mereka menjalani kehidupan sebagai seorang WTS hingga mengakibatkan mereka harus dibina di PSKW. ‘’Ada yang merasa ditipu oleh teman, keluarga dan pacar,’’ ujar Wismaningsih.
Sehari-hari, dalam waktu normal, mereka menjalani bimbingan agar setelah keluar dari PSKW Budi Rini, mereka bisa menjalani kehidupan yang baik. Di pagi hari ada bersih diri dan bersih lingkungan. Setelah itu, pemberian keterampilan menjahit, tata boga, tata busana, dan tata ruang yang berlangsung setiap pagi hingga pukul 11. Setelah salat Dzuhur mereka memperoleh kesempatan istirahat dan sorenya ada kegiatan bersama di lapangan voli atau bulu tangkis.
Itulah kegiatan rutin di malam hari selama 30-6-12 bulan yang harus dijalani para WTS di bulan puasa ini. Kalau siang hari, setelah salat Dzuhur mengikuti kultum (kuliah tujuh menit), Kemudian, saat berbuka puasa pun, didahului Takzilan sebelum melakukan salat Maghrib bersama dan kemudian makan malam dengan menu yang berganti untuk memenuhi seleranya.
Karena beragam asal usul etnis mereka, maka setiap 10 hari disiapkan bergantian menu-menu lokal seperti menu Bima yaitu ikan yang diasem manis Palumara atau kalau menu Sumbawa adalah Singang yaitu ikan yang dimasak tumis disertai air asem. Untuk menu Lombok berupa pelecing kangkung, sayur nangka dan sayur bening. ‘’Yang pasti semuanya suka pedas,’’ kata Wismaningsih yang mengungkap keberanian mereka mengemukakan ketidak sukaannya terhadap makanan yang diberikan, misalnya sup atau tahu.
Di sana, di lingkungan yang luasnya 64 are atau 6.400 meter persegi, ada dua gedung asrama yang memiliki 20 kamar yang masing-masing bisa menampung 2-3 orang. Ada satu ruang kelas, ruang bimbingan : tata boga, tata busana, tata rias, ruang poliklinik, ruang makan, ruang dapur, aula dan shelter untuk keperluan non WTS yaitu perempuan koran kekerasan atau perempuan terlantar.(supriyantho khafid)


