MATARAM – PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) selaku produsen semen Tiga Roda sejak dua tahun lalu telah mengembangkan tanaman jarak di atas lahan marjinal seluas 240 hektar di sekitar tiga lokasi pabriknya untuk bahan bakar alternatif. Targetnya, ITP yang setiap harinya menggunakan 3.000 ton batu bara, bisa mengganti lima persen dengan 150 ton minyak jarak. Untuk keperluan penyediaan minyak jarak tersebut, ITP menerima penjualan umum seharga Rp1.500 perkilo biji jarak atau Rp700 perkilo buah jaraknya.
Pengembangan tanaman jarak oleh ITP tersebut merupakan upaya menanami lahan kosong di sektiar lokasi pabrik yang merupakan lahan kapur. ‘’Ini bagian dari program bina lingkungan,’’ ujar Alexander Frans – Public & General Affairs Division Manager kepada wartawan, selesai berbuka puasa bersama masyarakat sekitar lokasi Terminal Semen Lembar, Selasa (9/9) malam.
Pengembangan tanaman jarak semula menggunakan bibitnya dari Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat.Sebagai program pembangunan berkelanjutan, ITP yang dikatakan oleh Alexander Frans sadar banyak mengambil sumber daya alam, juga mengelola sampah untuk menjadi kompos. ‘’Sampah dikelola oleh unit-unit kecil masyarakat,’’ katanya.
Untuk kepentingan Program Bina Lingkungan (PBL) yang dinilai sebagai investasi bukan sebagai pembiayaan, setahun terakhir ITP menyediakan dana sebesar Rp15 miliar yang dilaksanakan dengan berpedoman program lima pilar : pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya keagamaan dan keamanan. PBL dilakukan di 12 desa di sekitar lokasi pabriknya di Citeureup, 6 desa di Cirebon dan 10 desa di Tarjun Kalimantan Selatan.
ITP yang memiliki kapasitas produksi keseluruhan lebih 17 juta ton setahun, berasal dari 9 pabrik di atas lahan 200 hektar di Citeureup Bogor Jawa Barat, sekitar 45 kilometers selatan Jakarta, memiliki kapasitas produksi 11.3 juta ton setahun. Di atas lahan seluas 37 hektar di Palimanan Cirebon, sekitar 150 kilometer timur Jakarta, juga memiliki dua pabrik yang kapasitas produksinya 2,6 juta ton. Sedangkan pabriknya di Tarjun Kalimantan Selatan, menghasilkan 2,6 juta ton.(supriyantho khafid)

