MATARAM – Lebih 30 tahun lalu, siapa tidak mengenal kota Ampenan. Di sana, tempat berlabuhnya kapal dagang dan penumpang berlabuh. Semua komoditi hasil bumi : bawang, tembakau dan semua yang dihasilkan dari pulau Lombok dikapalkan dari Ampenan. Semua pedagang dari Jawa dan Kalimantan dipastikan mengetahui nama Ampenan yang juga dipakai hingga sekarang sebagai sebutan resmi kota tujuan penerbangan.
Daerah ini dahulunya merupakan pusat kota di pulau Lombok. Di sebelah barat berbatasan dengan selat Lombok yang memisahkan pulau Lombok dengan pulau Bali. Namun sejak dipindahkannya pelabuhan utama kapal dagang maupun penumpang dari Lombok ke Bali di dalam teluk Lembar, Ampenan menjadi kota mati. Apalagi kota Mataram kemudian dikukuhkan sebagai kota yang berdiri sendiri terpisahkan dari Kabupaten Lombok Barat dan juga sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat, perdagangan pun beralih ke kawasan Cakranegara.
Namun kini, Ampenan mulai berbenah diri. Bekas lokasi pelabuhan ditata agar bisa menjadi kawasan wisata oleh Pemerintah Kota Mataram. Pasar lama di Ampenan pun dihidupkan kembali. Nah di sinilah, setiap bulan Ramadhan, di petang hari, menjadi pusat keramaian kesibukan perdagangan makanan untuk buka puasa. Bukan hanya sekedar jajanan tetapi juga berbagai macam lauk.
Seperti suasana Ahad (7/9) sore. Hiruk pikuk orang berjualan dan membeli terpaksa harus melibatkan Polisi Lalu Lintas yang mengatur arus kendaraan yang melewati jalan Niaga di depan pasar Ampenan tersebut. Tukang parkir pun bertambah banyak membuka parkiran di sepanjang jalur jalan Niaga tersebut.
Suasana khas di bulan puasa, sekitar 30 pedagang memenuhi halaman utara pasar tersebut. Hampir semua makanan sehari-hari tersedia mulai : pelalah tahu tempe dan telur, pelecing ayam, urap serbuk kacang panjang kecipir tauge, ebatan, olah-olah, sate ikan, sate pusut (kelapa dicampur ikan laut atau daging). Sedangkan jajajannya tersedia : serimuke, kue lapis, susun hijau, kelame antap (kue kacang hijau seperti bubur sunsum), wajik, dodol, kelepon, agar-agar, kue apem, roti kukus, kueku, kelepon, getas, lemper, kue sus.
Seorang pedagang Ariwati menyebut niatnya berjualan nasi dan kolak serta bubur kacang hijau sebagai rezeki Ramadhan. ‘’Kalau tidak puasa tidak seramai ini. Rezeki ramadhan,’’ ujarnya. Ia menjual nasi kuning atau putih dengan lauk sekotak plastik Rp6 ribu, mihun goreng Rp2.500. Atau kolak, bubur kacang hijau segelas Rp3 ribu. Tidak kurang ia bisa menjual dagangannya selama dua jam seharga Rp200an ribu. Tentu saja, dari kelelahannya itu, bisa menyisihkan Rp40 ribu dari berjualan sekitar dua jam.
Adanya pedagang musiman di bulan puasa disukai oleh warga. Suti yang hanya berdua dengan suaminya mengaku bisa lebih praktis dengan membeli lauk untuk berbuka puasa. Baginya, selera dan kenikmatan dari lauk dan jajan yang dibelinya tidak terlalu dimasalahkan. Toh harganya juga tidak terlalu mahal. Membelanjakan uangnya Rp5 ribu hingga Rp20 ribu bisa untuk makan lima orang. ‘’Terima beres. Mudah daripada bikin sendiri,’’ ucapnya. Jajan pun demikian. Hanya seharga Rp500-Rp600 per biji.
Lain keramaian di sepanjang Jalan Yos Sudarso yang berada di jalur utara dari Jalan Niaga. Di sana, juga bermunculan puluhan pedagang kurma yang didominasi oleh keluarga etnis Arab. Hajah Sofiah Bagis misalnya, membuka jualannya selama bulan puasa ini sudah menghabiskan belanja lebih Rp20 juta. ‘’Ya lumayan penjualannya. Sepanjang hari dapat berjualan lebih Rp1 juta,’’ katanya.
Tidak hanya kurma. Di berbagai wilayah kota Mataram pun, seperti bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya bermunculan pedagang kelapa muda. Seorang warga Pejarakan, Wahab yang sehari-hari berjualan kopi di taman Udayana, ikut-ikutan menjualnya. Sekali membeli 100 biji yang bisa habis dalam dua hari, dari harga pokok terima di tempat Rp3.500 per biji, dijualnya Rp4.000. ‘’Ya lumayanlah untuk menambah nafkah,’’ ujarnya.(supriyantho khafid)


