MATARAM – Masih banyak penduduk di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang buang air besar (BAB) sembarangan. Cukup tinggi, 42,52 persen yang tidak memiliki sanitasi dan 33,22 persen tidak memiliki akses air minum. Karena itu Pemerintah Provinsi NTB berupaya untuk menguranginya hingga separonya pada tahun 2015. Sebab, sampai saat ini tidak tersedianya sanitasi berakibat masih menjadi masalah adanya penyakit infeksi dan menular yang belum terselesaikan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Fathurrahman mengemukakannya sewaktu berbicara pada pembukaan lokakarya kelompok kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang berlangsung di Hotel Jayakarta Senggigi, Senin (8/9) siang. Kondisi itu mengancam kesehatan manusia, kelangsungan hidup anak, produktivitas kerja, polusi dan lainnya. ‘’Jeleknya sanitasi ini merupakan tantangan terbesar,’’ katanya.
Tidak hanya di pedesaan tetapi juga terjadi di perkotaan. Kebanyakan dilakukan di kebun. 7 tahun ke depan, diharapkan sekitar 3 juta jiwa penduduk NTB terlayani sarana sanitasi dasar yang layak dan sekitar 3,5 juta jiwa mendapatkan air minum-air bersih berbasis pemberdayaan masyarakat. Mengutip Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik, pada tahun 2006 NTB memiliki akses menambah sanitasi 46,2 persen dan askes menambah sumber mata air 62,4 persen.
Fathurrahman menegaskan bahwa untuk mengurangi tingginya penduduk yang tidak memiliki fasilitas sanitasi bisa saja disediakan proyek. Tapi tidak menyelesaikan masalah perilaku masyarakat. ‘’Ini sesungguhnya menyedihkan. Sangat tidak sehat. Mengubah kebiasaan juga tidak gampang,’’ ucapnya.(supriyantho khafid)

