MATARAM – Seorang tuan guru kiyai haji berasal dari lingkungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur, Muhammad Zainul Madjdi, 36 tahun, bersama pasangannya Badrul Munir, 54 tahun, yang dicalonkan oleh dua partai Islam Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sejahtera telah memenangkan pemilihan kepala daerah yang berlangsung, 7 Juli 2008 lalu.
Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang setelah sektor pertanian berharap banyak dari pertumbuhan industri pariwisata yang diyakini dapat menumbuhkan perekonomian daerah dan masyarakat NTB. Karena itu, setelah memenangkan pemilihan tersebut, Zainul Madjdi banyak ditunggu kebijakannya oleh para pelaku industri pariwisata. Menanggapi berbagai kekawatiran, ia menjelaskan melalui wawancara sebagai berikut :
Pariwisata adalah program adhocnya untuk menarik wisatawan. Agar memenuhi ekspektasi 7 juta orang wisatawan yang datang ke Indonesia. Ia sudah berada di Komisi X yang juga membidangi pariwisata.selama di DPR RI. ‘’Insya Allah saya mengerti dari A sampai Z. Walaupun tidak pandai, tetapi saya mengerti kebijakan pariwisata nasional,’’ ujarnya.
Menurutnya, impact Visit Indonesia Year (VIY) itu tidak akan terasa kecuali kalau Dinas Pariwisata atau otoritas pariwisata mau bekerja sama dengan seluruh pengambil kebijakan, pelaku industri pariwisata. Tidak akan terwujud kalau sektor pariwisata saja yang bergerak dengan dana yang terbatas, yang iklannya tidak terlalu bagus.
Dari banyak komunikasi yang dilakukan selama ini, yang ditemuinya tidak banyak yang bisa bicara VIY. Kalau dipersempit di Senggigi, tidak banyak yang tahu. Effektivitas program masih dipertanyakan. Dilihatnya, pariwisata Indonesia selalu ketinggalan dengan Malaysia. Selalu ketinggalan dengan negara Asia Tenggara. ‘’Selalu pendekatannya birokrasi,’’ ucapnya.
Kalau ada pameran atau event promosi pariwisata yang berangkat itu orang Dinas Pariwisata. Kalau di pusat itu Dirjen atau siapa yang berangkat. Kadang-kadang tidak bisa bahasa Inggris sehingga tidak terjadi komunikasi. Tidak mengerti apa-apa. Hanya untuk semacam penghargaan terhadap pegawainya diberangkatkan. Dengan dana yang sangat minim itu perlu dimanfaatkan secara efisien. Disebutnya, effektif VIY itu sangat kecil sekali. ‘’Untuk Lombok apa, tidak ada,’’ katanya.
Karena itu kalau dirinya sebagai calon gubernur terpilih dan mudah-mudahan tidak ada kendala, pada saatnya, banyak hal yang bisa dilakukan. Pertama, Pemerintah Daerah harus lebih ramah terhadap pelaku pariwisata. Ramah bukan berarti menghilangkan regulasi. Tidak mungkin. Artinya, ada fasilitasi tertentu, kemudahan tertentu untuk investasi di bidang pariwisata. Kemudian Pemerintah Provinsi NTB harus betul-betul mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Diantaranya menjalin langsung hubungan dengan negara tertentu yang selama ini memasok wisatawan ke NTB.
Misalnya di Australia itu di negara bagian mana yang banyak memasok. Juga di Amerika Serikat, Timur Tengah. Perlu dijalin. Tidak usah atas nama negara tetapi atas nama NTB. Langsung menjalin komunikasi. ‘’Saya pikir banyak hal yang bisa dipersingkat. Ada upaya intensif yang langsung antar local goverment,’’ ujarnya.
Menurutnya, pariwisata pasti membawa pengaruh baik dan jelek. Menguntungkan, bisa menghasilkan devisa sekian triliun. Lombok NTB dikaruniakan keindahan yang luar biasa. Jadi potensi ini yang harus dikembangkan. Maka pariwisata yang sedang berkembang di NTB pariwisata konvensional itu silahkan berjalan. Pemerintah akan menunaikan tugasnya sebaik-baiknya. Untuk menjamin pelaku pariwisata itu mendapatkan perlindungan investasinya. Kita perlu keamanan, Polri jaminan kepastian hukum. Dengan regulasi yang transparan.
Tetapi pada saat yang sama kita juga punya peluang untuk menarik satu pasar yang baru. Kita tahu dengan harga minyak yang luar biasa ini ada orang-orang kaya baru dari Rusia dan Timur Tengah. Yang menikmati lonjakan minyak yang luar biasa. Alangkah baiknya Lombok punya banyak destinasi yang bisa ditawarkan. Yang mau bersantai dengan pola konvensional Senggigi. Atau yang lebih family tourism. Atau ke Lombok Tourism. Atau yang senang wisata spiritual. Artinya kita ingin orang datang ke Lombok banyak yang dilihat. Ini banyak dilakukan negara yang menggantungkan diri ke pariwisata.
Di pegunungan Alpen Swiss ada Arabic Resort. Dibangun khusus untuk turis Arab. Tidak ada orang bertanya ini Islamisasi. Ini judulnya bagaimana orang Arab kerasan di sana. Lengkap dengan hotel yang dapat mengakomodir kebutuhan keluarga Arab yang jumlahnya banyak. 20-30an. Kalau hotel yang biasa kan tidak cukup. Jadi dibuat cottage yang luas. Dan ternyata sangat menguntungkan dan itu akan diadopsi oleh negara Eropah. Kalau di sana bisa menyium bau real dan dinar, padahal potensi di NTB sangat besar. Jadi semua berkembang. Every body happy.
Selanjutnya, akan adanya investor Emaar Properties - BUMN asal Dubai yang hendak mengelola kawasan wisata Putri Nyale di Lombok Tengah, ia menyatakan senang. Apa yang bisa dipercepat akan dipercepat. Artinya proyek itu memiliki efek berantai untuk pertumbuhan ekonomi. Maka salah satu tugas pemerintah itu fungsi pelayanan kepada masyarakat. Harus mengfasilitasi pelayanan kepada masyarakat untuk pengembangan investasi. Dari uang pemerintah di NTB tidak akan mungkin bisa membangun apa yang diharapkan. Terbatas sekali dana itu. Demikian pula uang yang ada di tengah masyarakat masih sangat kecil. Maka harus ada uang masuk dari luar.
Pertama komunikasi dengan Emaar akan lebih mudah. Karena saya bisa bahasa Arab. Seluruh proses penerjemahan itu akan menimbulkan degradasi makna kalau kurang paham. Dan orang Arab itu, banyak hal yang tidak mungkin selesai dalam pembicaraan formal. Tapi dengan bicara non formal. Sesuai kebiasaan dan kegemaran. Pengalaman saya di Kairo Mesir. Perlu diplomasi kultural. Dikedepankan kalau ingin meraih. Senang berkesenian? mendengarkan lagu yang bersemangat. Menonton tergantung yang ditonton.
Di dalam misi, pertama mengembangkan masyarakat madani : empat pilarnya, berbudaya, berahlak mulia, menghargai pluralitas, kesetaraan gender. Berbudaya, banyak kearifan yang hidup di tengah masyarakat yang bisa dikembangkan sebagai modal membangun. Tidak bicara kesenian dalam bentuk penampakan tertentu. Salah besar kalau budaya itu gendang beliq. Budaya akan bermakna di NTB itu dalam konteks nilai-nilai itu. Misalnya dalam masyarakat Sasak itu ada awiq-awiq tertentu. Nilai penghormatan kepada yang tua, nilai malu berlaku curang, itu mestinya tersosialisasi. Kita bicarakan masalah itu bersama.
Taman Nasional Gunung Rinjani yang juga banyak diminati oleh banyak pecinta wisata petualangan itu bagus luar biasa. Ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjadikan sebagai salah satu contoh ecotourism yang akan dikembangkan, ia mengaku yang meminta dikembangkan di NTB. Sangat berpeluang, mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan. Tidak karena hanya investor menawarkan lalu hancur. Yang menanggung akibatnya anak-anak kita. Saya tidak mau anak-anak NTB menemukan rusaknya lingkungan. Banyak yang bisa dikembangkan. Saya beberapa kali berjumpa dengan kelompok profesional, karena selama ini tidak ada wadah yang bisa menjadikan mereka bisa berbicara dengan pemerintah. Insya Allah saya akan bicara dengan kelompok profesional kepentingan itu.
Bad side effect pariwisata? Semua pasti ada bad side effect. Lari dari rumah lama, atau burung yang kehilangan pohon yang ditebang. Orang tidak suka pariwisata karena peredaran minuman keras yang tidak terkontrol. Kalau sudah bicara minuman keras, itu ada aturannya. Kalau penegak hukum kuat. Bagus. Melaksanakan tugas dengan baik.
Bicara bad side effect pariwisata seperti di Jakarta dan Bogor ada wisata harim. Mencegahnya?. Ini lain lagi. Sesuatu yang tidak boleh ada. Karena itu bentuk baru dari traficking. Walaupun dibungkus dengan alasan apapun. Tetapi ketika ada anak usia 16 tahun dikawini orang tertentu selama dua bulan, setelah itu menjadi janda. Belum lagi kalau dia hamil dari perkawinannya. Setelah dua bulan suaminya hilang pergi. Masalah sosial baru. Pertama dia harus sekolah. Kalau dikawinkan, tidak mungkin punya keberanian sekolah lagi. Masa depannya tutup buku untuk dia. Yang paling mungkin dia melanjutkan prostitusi. ‘’Dan itu tidak boleh ada di NTB,’’ katanya.(supriyantho khafid)


