MATARAM – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Nusa Tenggara Barat (Association of The Indonesia Tour & Travel Agencies-ASITA NTB) mengeluhkan kurangnya akses transportasi dari dan ke Mataram. Untuk kepentingan angkutan wisatawan baik dari mancanegara maupun nusantara masih terkendala keterbatasan pesawat maupun angkutan laut dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.
Ketua DPD ASITA NTB Awanadhi Aswinabawa menyebutkan masalah akses tersebut menghambat perjalanan wisatawan ke Lombok. ‘’Jalur udara butuh akses dari kota utama seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar,’’ ujarnya kepada LombokNews. Selain itu, untuk rute Denpasar – Mataram yang selama ini dilayani oleh pesawat non jet diperlukan peningkatan penggunaan pesawat jetpe. Pemerintah pun harus mendorong maskapai airlines Air Asia juga bisa membantu membuka rute Kuala Lumpur – Mataram.
Jalur laut juga menjadi masalah. Angkutan kapal cepat hanya tersedia dalam kapasitas muat 20-40 seat yang menghubungkan Benoa Bali ke pulau wisata Gili Trawangan. Sedangkan kapal cepat yang bermuatan 626 orang seperti Bounty Cruises sudah menghentikan rute pelayarannya karena sepi penumpang. ‘’Ongkosnya terlalu mahal,’’ katanya. Kapal cepat baik yang kecil memasang tarif Rp600 ribu dan Bounty yang semula meminta subsidi pun karena belum terpenuhi mengenakan tarif US $ 85.
Dari informasi Kepala Badan Pusat Statistik NTB Mariadi Mardian, diperoleh data tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang 1-5 mengalami peningkatan. Pada bulan Juni 2008 tercatat 43,99 persen atau diinapi oleh 16.437 wisatawan. Rata-rata lama menginap mereka 2,73 hari.(supriyantho khafid)


