Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Saturday, 30 August 2008 • TOKOH

MATARAM - Puluhan ”kotak-kotak antik” berwarna merah darah dan hitam berhiaskan kerang putih menempel pada dinding di belakang guest service agent - resepsionis - hotel berbintang empat di Senggigi. Itulah produk kerajinan yang terlihat digunakan sebagai interior ruang hotel yang dibuka sejak 1991 lalu. Namun, kini tidak hanya di sana bisa dijumpai kotak-kotak lontar sebagai penghias ruang. Sebab, sudah banyak yang menempatkannya di ruang tamu rumah-rumah peminat kerajinan.

Kotak antik lontar yang terbuat dari rangka kayu Aren dilapisi daun Enau, pelepah Aren rotan dan kerang yang semula berfungsi sebagai penyimpan pakaian masyarakat Sasak pada masa lalu itu kini memang menjadi produksi kerajinan yang banyak diminati tidak hanya di dalam negeri. Bahkan hingga mancanegara.

Memang, maju bersama semaraknya kepariwisataan Lombok-NTB, mengangkat pula usaha barang kerajinan rakyat mulai dari kerajinan gerabah, kerajinan akar/rumput, kerajinan batu, kerajinan kayu, kerajinan tembaga, kerajinan bambu, kerajinan pandan/jerami, kerajinan lontar, kerajinan tulang, kerajinan tanduk, kerajinan kulit, kerajinan kuningan, dan kain tenun. Bahkan pintu rumah dan sapu ijuk atau sapu lidi serta bola takraw buatan Lombok pun mulai beredar di negeri orang.

Berdasar pencatatan dari artshop, waktu itu, yang dikumpulkan oleh Kandep Perindustrian Kabupaten Lombok Barat, nilai produk industri kerajinan yang diantar pulaukan maupun yang dikirim ke mancanegara per triwulan mencapai Rp 600 juta. Berdasar data Kanwil Departemen Perdagangan NTB, pada tahun 1994, tercatat sebanyak 493,144 ton barang kerajinan senilai 314.065,35 dolar AS atau Rp 690 juta lebih.

Dan ini, diantaranya bisa dikatakan merupakan andil dari Sudirman, 56 tahun, pedagang asongan kelahiran Ampenan-Mataram yang kini telah menjadi seorang pengusaha khusus barang kerajinan. Di kampung-kampung para pengrajin di seluruh Lombok, siapa yang tidak kenal nama Sudirman pemilik usaha Sudirman Antiques-Primitive Classic Art. Para pengusaha barang kerajinan dari berbagai negara mulai dari Australia, Amerika Serikat, Belanda, Swiss atau lainnya yang datang ke Lombok, sebagian diantaranya mendapatkan barang dari Sudirman.

Kalau dilihat dari kekayaan yang dimilikinya, barangkali memang belum hebat. Ia baru bisa dikatakan lebih dari puluhan pengusaha kerajinan yang ada di Lombok. Ekspor pun masih dilakukan atas nama pemesan. ” Namun, kemauannya untuk meningkatkan industri kerajinan di daerahnya, atas jasa memelopori membuahkan hasil Upakarti dari presiden, ” kata seorang pejabat Perindustrian Lombok Barat waktu itu, H.S. Alwi. Penghargaan tersebut diterima bersama istrinya di Jakarta, 16 Desember 1989.

Memang berbeda dengan pengusaha artshop lainnya yang hanya menunggu pembeli, dikatakan oleh Alwi, bekas pedagang asongan ini memang mau berinisiatif sendiri coba-coba mengirimkan contoh barangnya ke beberapa kenalannya di mancanegara. Seperti misalnya sampai memperoleh order 3.000 buah sapu ijuk dari negeri Belanda. Bersama sapu lidi dan bola takraw beserta barang kerajinan lainnya dalam satu container yang isiya sejumlah ribuan buah senilai $ 17.000 atau Rp 35 juta diberangkatkan ke negeri Kincir Angin.

Apa yang telah dilakukan sekarang ini tak lepas dari kisah hidupnya. Seperti yang diceritakan di rumahnya, berawal dari kejeliannya sebagai pedagang asongan di pulau Bali. Tahu bahwa barang-barang yang berusia lama memiliki nilai tinggi dan digemari oleh wisatawan, maka ia pun keluar masuk pelosok desa di Lombok untuk mencari barang yang bisa dijual di Bali.

Anak dari tukang cuci pakaian pasangan suami istri almarhum Asip dan Patmi di kampung Dayen Peken-Ampenan, Mataram, ketika berusia 24 tahun merantau untuk mengadu nasib ke Denpasar-Bali. ” Situasi ekonomi orang tua sangat lemah. Padahal saya harus bertanggung jawab menafkahi istri saya, ” ujarnya mengenang masa lalunya, ketika baru menikahi istrinya, Zeni Yusuf, tahun 1972.

Semula, tanpa memiliki modal sendiri, sebagai pedagang kaki lima pada hari-hari pasaran di berbagai pelosok desa di Bali, ia mencari nafkah menjual barang kepercayaan yang diberikan kepadanya seperti pakaian, barang pecah belah dan berbagai barang lainnya seperti arloji. Ini berjalan hingga sekitar 6 tahun. Ketika pulang sore harinya ia harus menyetorkan hasil penjualannya ke pemilik barang. Begitu setiap hari yang dilakukan.

Setelah itu, Sudirman yang tidak sampai tamat SD karena hanya bisa sekolah sampai kelas 6 saja, berpikir bahwa setelah desa-desa di Bali menjadi maju, bisa terancam periuk nasinya. Sebab tahun berganti tahun tambah banyak toko di desa-desa di Bali yang menjual barang yang dibawa Sudirman. Penghasilannya pun menurun. ” Untuk menyewa rumah setahun Rp 10 ribu saja waktu itu sulit, ” katanya. Di sana, waktu itu hanya mampu menempati rumah yang dikatakannya sangat sederhana.

Jadi pada sekitar tahun 1978an, ia coba-coba banting setir. Menurutnya, ibaratnya seperti bawa mobil tidak harus ke kanan atau ke kiri terus. ” Saya berpikir lika-likunya hidup juga berbelok-belok, ” ujarnya. Ia pun beralih ke pantai Kuta dan Legian keluar masuk hotel dan losmen menawarkan cinderamata barang antik dan kerajinan ukiran patung seperti kain tradisional songket buatan Lombok bahkan yang berasal dari daerah Sumba, Kupang, Kalimantan. ” Barang kerajinan Lombok saat itu belum ada, ” katanya.

Tahun 1981 sudah mulai mondar-mandir Lombok-Bali. Membeli barang kerajinan dari Lombok seperti songket karena belum ada ukiran dan anyaman dan lainnya. Tetapi tidak banyak. Laku barang di Bali pulang ke Lombok ngambil lagi. Sampai kemudian berpikir merenungkan diri apa yang diusahakan kalau menetap kembali di Lombok. ” Saya pikir kenapa Bali bisa maju dan berkembang di bidang kerajinan, ” ujarnya.

Memang kerajinan Lombok waktu itu tidak nampak. Oleh karenanya ketika balik ke kampunng halamannya, ia memperjuangkan untuk menggali mengembangkan hasil kerajinan yang waktu itu tidak nampak sama sekali. ” Ada tapi hanya beberapa macam barang kerajinan, ” sebutnya.

Keuntungan yang mulai diperolehnya bisa menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun ketika memutuskan pulang ke Lombok, hasil merantaunya boleh dikatakan hanya pengalaman. Sampai kemudian yang diingatnya, pada tahun 1982, mulai mencoba keliling desa untuk mencari kotak antik yang oleh masyarakat Sasak-Lombok digunakan untuk menyimpan pakaian. ” Keadaan kotak milik penduduk sudah lapuk. Oleh karenanya, kotak yang dibelinya perlu direparasi, ” jelas Sudirman.

Pada saat itu harganya tidak begitu mahal. Sebuah kotak antik yang lapuk dibelinya Rp 10 ribu. Menurutnya, dari 3 buah kotak yang dibelinya setelah direparasi tinggal menjadi satu yang utuh yang siap dijual. Bahan yang rusak untuk yang lainnya. Bongkar pasang supaya bisa dijual. Memang berlainan semula. Tapi dicocok serasikan.

Ukuran kotak ada beberapa macam. Misalnya yang berukuran 50 kali 50 senti dan 20 kali 15 senti. ” Dulu saya kerjakan sendiri. Tidak diubah sebagaimana aslinya, ” kata Sudirman yang berpenampilan sederhana. Untuk mencari ke desa dilakukan oleh beberapa orang warga pengrajin periuk Rungkang Jangkok kelurahan Sayang-Sayang.

Karena naluri kepioniran yang ada dalam dirinya, maka akhirnya ia berinisiatif membuka artshop sendiri di Ampenan dan membuat produk baru kotak antik lontar. Sebab, diperhitungkannya, setelah tidak ada lagi kotak lama milik penduduk, karena semakin tahun orang di desa tidak mungkin lagi menggunakannya sebagai penyimpan pakaian. ” Suatu waktu tentu akan menggunakan lemari, ” ujarnya.

Sejak 1991 industri kecil Lombok bisa dikatakan mulai bangkit. Semua sentra industri kerajinan yang umumnya penduduknya miskin dan lingkungannya kumuh ikut berkembang. Misalnya ia mendatangi pengrajin ukiran patung di Semonyan Lombok Tengah selatan yang selanjutnya mengembangkan produksi batu paras putih untuk pot hotel berbintang.

Sebenarnya Sudirman tidak memiliki usaha yang mempekerjakan ratusan pengrajin pada satu lokasi kerja. Kalau awalnya Sudirman hanya menemui 2 orang pengrajin di desa. Tetapi setelah barang yang dibuatnya laku, jumlah pengrajin pun berkembang menjadi 40an. Dari beberapa sentra yang tersebar di seluruh Lombok, menurut pengakuan Sudirman, ada 400 orang pengrajin yang mengerjakan pesanannya. Ini belum termasuk para pengrajin yang tidak menjual barangnya kepada Sudirman yang memang menjaga kwalitas. ” Yang saya ambil yang kualitasnya bisa dipasarkan, ” katanya.

Seperti kata Husni Tamrin Sibaway, salah satu dari empat ketua kelompok pengrajin di Rungkang Jangkok di Kelurahan Sayang-Sayang. Bay, begitu panggilan sehari-harinya, sejak lama bekerja menerima order dari Sudirman. Ia membawahi enam orang pengrajin untuk mengerjakan 30 set masing-masing berisi enam kotak lontar memerlukan waktu tiga bulan.

Sudirman memang mengutamakan kualitas. Oleh karena itu, untuk bisa menjual barang baik, ia mengaku tidak bisa mengusahakan barang kerajinan secara besar-besaran. Sebab, menurutnya, apabila memenuhi pesanan dalam jumlah besar, cenderung bekerja cepat dan mengabaikan kualitasnya. Mengutamakan kualitas tadi ditunjuknya omset penjualan yang belum bisa dikatakan banyak.

Kalau tahun 1992 sekitar Rp 45 juta, 1993 menjadi Rp 55 juta, maka kemudian waktu itu menjadi Rp60 juta. Barang kerajinan yang diusahakan mulai dari kotak antik lontar yang merupakan unggulan usahanya karena omset penjualannya mencapai 70 persen dibanding patung ukiran, anyaman, dulang, kain tenun Sasak, atau lainnya.

Memang, setelah mengusahakan kotak antik lontar yang dibuat oleh pengrajin dari Rungkang Jangkok, ia menginginkan adanya pilihan barang kerajinan lainnya. Mulailah ia melirik misalnya ke sentra pengrajin anyaman Ketak dari rumput di Nyiurbaya-Narmada dan sapu ijuk dari Dasan Geria-Narmada, ukiran kayu Tanak Embet Batulayar.

Dari hasil penjualan produknya mulai dari sapu ijuk Rp 3 ribu, kotak antik lontar dan peti kayu tergantung motif dan besarnya mulai dari harga Rp 40 ribu, Rp 100 ribu dan hingga Rp 300 ribu ia mendapatkan keuntungan 20 persen.

Tidak memaksakan diri mengejar omset besar, Sudirman mengaku baru mampu bisa memenuhi pesanan setiap enam bulan mengirimkan satu container ukuran 20 feet yang nilainya 17 ribu dolar atau Rp 35 juta tadi. ” Tidak setiap bulan bisa kirim karena tidak mampu, ” ujarnya sambil menyebut mainan kunci dari tulang, keranjang Gandek, kain Sasak, patung, pintu rumah tradisional, dulang (tempat buah khas Lombok).

Nggak bisa ditingkatkan ? Ia menjawab bisa, tetapi ya tergantung kualitas. Sebab, menurun dan meningkatnya penjualan, katanya, ditentukan kualitas. Bukan tidak berani menerima order sebanyak mungkin. ” 100 juta sebulan pun bisa. Saya nggak mau karena menyangkut nama, ” tuturnya bernada kalem.

Itu sebabnya pula, meskipun telah memiliki ketua kelompok pengrajin pada masing-masing sentra, ia dan istrinya harus menyeleksi sendiri barang yang dibawa pengrajinnya. Sebab, seperti yang dikemukakan, menjual barang kerajinan ini berkait dengan hatinya orang. ” Jadi tidak bisa dipercayakan orang. Harus halus kerjaannya, ” ucapnya.

Barang yang diterima dari pengrajin bukan siap kirim. Di rumahnya di Jalan Saleh Sungkar-Ampenan yang berdiri di atas lahan seluas lima are ia melakukan finishing yang bisa memakan waktu empat hari mulai dari memeriksa anyaman dan pewarnaan. Di situ pula, ia menyimpan stock barang yang siap jual senilai Rp 150an juta.

Katanya, tanpa terjadual, sesuai kondisinya, perlu menemui pengrajin. Sebab, kalau menemui mereka ini harus sabar, jernih hati dan gembira. ” Nggak gampang bertatap muka dengan pengrajin, ” ucapnya.Untuk penjualan eceran dari tamu-tamu yang berkunjung ke artshopnya, sehari-hari, menurutnya ketika berbicara di depan pekerja finishing di halaman rumahnya, juga bergantung musim tamu wisata di daerahnya. Karena bermusim, boleh dikatakan ia setiap hari selama 5 bulan dalam setahun antara Rp 100-400 ribu. Mereka yang datang ini, umumnya karena namanya yanng tercantum pada semua guide book yang diterbitkan oleh penulis perjalanan wisata asing.

Nama-nama beken juga masuk dalam album pelanggan Sudirman. Seperti tokoh CSIS Jusuf Wanandi dan tokoh Kadin Rudy J Pesik, atau pengusaha di pertokoan elite Sogo maupun Sarinah Jakarta. Untuk kepentingan usahanya, Sudirman pun pernah melakukan kunjungan promosi baik yang dibiayai pemerintah maupun atas biaya sendiri ke Australia, Perancis dan Belanda.

Kiat dari suami istri yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Cina untuk menyambut wisatawan yang singgah ke rumahnya adalah pelayanan yang sewajarnya. Ia menggunakan ilmu usahanya rendah hati dan pelayanan. Itu modal utamanya.

Dikatakannya, walaupun modal besar kalau tidak disertai pelayanan nggak ada hasilnya. Orang membeli serupiah dan Rp 100 ribu toh juga pakai uang. Jadi harus melayani sama. ” Penting sekali pelayanan. Senyum tapi kalau berlebihan juga kurang baik, ” ujarnya sambil mengaku senang-senang saja kalau semakin banyak artshop yang berdiri di Mataram. Menurutnya, semakin banyak artshop adalah baik. ” ” Nggak mungkin beli dari saya saja. Juga ke lainnya, ” tambahnya pula.

Untuk memenuhi pesanan yang 70 persen motifnya dibuat sendiri agar tidak sama dengan produk daerah lain, pembayarannya kepada para pengrajin diibaratkan pesawat transit saja. ” Kalau ada order, disanalah keberuntungan saya. Pemesan itu langsung kirim uang. Dan uang itu seperti transit melalui saya kemudian langsung ke pengrajin, ” katanya merendah mengaku tidak punya modal.

Bay ketika ditemui terpisah membenarkan. Selama belasan tahun bekerja untuk Sudirman, tidak pernah kesulitan pembiayaannya. ” Apa mau saya bisa diberikan, ” ujar Bay yang menyatakan belum ada pengusaha kerajinan yang seperti Sudirman walau tidak ada pesanan bersedia menampung produksinya.

Berbeda dengan dirinya yang merupakan anak pertama dari 10 orang bersaudara, Sudirman hanya memiliki 2 orang anak yang semuanya laki-laki. Anak pertama Najamudin, dan anak keduanya, Sony Hidayat.

Meskipun keluarga kecil, tidak sedikit tanggungan hidupnya. Sebab, selain sebanyak enam orang anggotanya keluarganya sendiri, di rumahnya kini terdapat 14 orang pekerja finishing yang memperoleh jaminan hidup. Selain penghasilan mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu, ia juga memberikan makan disamping uang transportasi setiap hari Rp 1.500.- belum termasuk uang tambahan bila bekerja ekstra.

”Kebesaran” Sudirman untuk ukuran bekas pengasong bisa dilihat dari keberadaan artshop Senggigi beserta bangunan workshop yang dimilikinya sejak dibuka 1992. Didirikan di atas tanah seluas 19 are ia menanam hasil usahanya Rp 200an juta selain tiga buah mobil tunggangannya jip Toyota, Kijang dan Mazda Capella untuk keperluan bisnisnya. Setidak-tidaknya seminggu sekali mendatangi para pengrajin di berbagai dusun di Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Walaupun demikian, kesederhanaan masih terlihat pada dirinya. Ketika ditanya angan-angan usahanya, ia meyebut keadaannya sekarang ini sudah cukup. Sederhana saja. ” Yang penting anak saya bisa lebih dari saya sesuai kemampuan dia dan saya sendiri, ” ucapnya sambil menyebut memaksa diri bisa berakibat nggak karuan. Yang dipegangnya adalah ingat masa lalunya yang tidak enak. ” Kalau dulu ngopi nggak pakai gula. Sekarang ada rasa sedikit manis tapi tidak sampai batuk, ” tuturnya.

Kesan tidak bersedia membesar-besarkan omset penjualan maupun aset perusahaannya juga tersirat dari tidak mudahnya mendapatkan angka-angka bisnisnya untuk penulisan ini. ” Usaha saya ini usaha kualitas. Bukan mengutamakan jumlah, ” jawabnya setiap kali didesak pertanyaan yang menyinggung angka produksinya.

Untuk mengungkap aset usahanya, tidak mudah. Semula ia selalu mengatakan, bahwa bisnisnya adalah berdasar kepercayaan. Karena ia memperoleh kepercayaan, maka modal pun katanya diperoleh diperoleh dari panjar pesanan. Sudirman sendiri mengaku sekarang tidak menggunakan pinjaman bank walaupun kepada para pengrajin ia mengusahakan membantu mendapatkan kredit pengusaha ekonomi lemah dari Bank BNI Mataram sebesar Rp 5 juta.

Kini, Sudirman telah mampu menempatkan dirinya sebagai salah satu pengusaha pembina pengrajin Lombok. Sederet foto-fotonya ketika didatangi Wakil Presiden Try Soetrisno sewaktu pameran di Sheraton Senggigi Beach Resort Lombok, Menparpostel (ketika itu) Soesilo Soedarman, dan menerima kunjungan Menteri Perindustrian Tungky Aribowo di rumahnya terpampang di dinding ruang tamu sekaligus berfungsi sebagai kantornnnya.

Sederet penghargaan sebagai bapak angkat pengrajin selama tiga tahun berturut-turut 1991, 1992, 1993 juga terpampang datang dari Gubernur NTB.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
» PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
» PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
» ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
» GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge