MATARAM – Para pengrajin gerabah di Desa Banyumulek Kabupaten Lombok Barat minta pelaku bom Bali segera dieksekusi. Tidak ada kata lain, Amrozi dan kawan-kawan yang sedang menunggu eksekusi segera ditembak mati. Sebab, perbuatan mereka merugikan industri kerajinan gerabah di daerahnya. Hampir tidak ada lagi wisatawan mancanegara yang datang untuk berbelanja gerabah. 3.000an orang pengrajin kehilangan hampir 90 persen pesanan sejak Tahun 2000 lalu.
Sekretaris Asosiasi Pengrajin Gerabah Banyumulek Zainuddin Mujiburahman mengatakannya kepada LombokNews, Kamis (28/8) pagi. Pemerintah harus segera mengeksekusi. Tidak melayani tawar-menawar lagi. ‘’Bumi hanguskan saja bandit-bandit itu biar selesai penderitaan kami,’’ katanya jengkel. Zainuddin adalah salah seorang dari 40 pengusaha artshop di banyumulek yang selama ini menjual produksi gerabahnya ke mancanegara.
Menurutnya, semula transaksasi bisa mencapai Rp100 juta sehari. Tapi kenyataannya yang terjadi hanya Rp20 juta seminggu. Tidak itu saja, banyak pengusaha kecil yang gulung tikar karena barang yang disuplai ke eksportir tidak dibayar. Padahal, mereka juga menanggung hutang ke para pengrajin. ‘’Tidak sedikit sawah dan rumah mereka digadaikan untuk membayar hutang,’’ ucapnya.
Secara terpisah, seorang pengusaha Lestari Artshop Mustari menegaskan persetujuannya pemerintah segera menghukum Amrozi dan kawan-kawan tersebut. ‘’Karena ulahnya, perdagangan gerabah di Banyumulek jadi sepi,’’ ujarnya.
Pemerintah juga diingatkan agar meningkatkan toleransi kehidupan berdampingan antar agama dan kemasyarakatan antar bangsa seperti yang dilakukan di Banyumulek. Selain itu, ada perlakuan yang adil terhadap masyarakat korban bom Bali. Katanya, untuk 200an orang korban mati hanya ada sepetak monumen berukuran lima kali lima meter tetapi rencana penguburan terpidana hukuman mati itu akan disiapkan lahan seluas satu hektar. Zainuddin juga meminta agar kelompok-kelompok pelaku bom di Indonesia juga tidak berpikiran sempit bahwa dirinya sendiri yang benar.(supriyantho khafid)


