Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Friday, 22 August 2008 • PARIWISATA

Dalam rangka membangun kebersamaan, lebih mengenal dan mencintai alam, dan berlatih membangun kerjasama tim, beberapa waktu lalu, karyawan PT. Angkasa Pura I Cabang Bandara Selaparang melakukan pendakian ke puncak Tambora di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Tim terdiri dari 20 orang karyawan PT. Angkasa Pura I Bandara Selaparang, 1 orang ORARI dan 3 orang KSDA.

General Manajer Bandara Selaparang Heru Legowo menceritakan pengalaman perjalanannya tersebut sebagai berikut :

-

Tambora terletak di Pulau Sumbawa. Dahulu kala gunung ini berdiri menjulang 4.000 M diatas muka laut. Sejarah mencatat pada 10 April 1815, setelah tidur selama lebih dari 5.000 tahun; Tambora meletus. Letusan terdahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah, hampir 8 kali letusan Krakatau yang terkenal itu. Ketika meletus Tambora melontarkan 150 kilometer kubik bahan-bahan vulkanik sejauh 40 kilometer ke angkasa. Letusannya terdengar sampai jarak 130 kilometer, dan menyebabkan kematian lebih dari 10.000 orang. Barangkali dari sinilah kemudian muncul nama Tambora (bahasa Bima Tam=orang Mbora=hilang). Begitu hebat letusannya, sehingga tahun itu menjadi tahun tanpa musim panas di belahan lain di bumi ini.

Letusan gunung diukur dengan Volcano Explosivity Index (VEI). Dalam skala 1-8, Tambora memiliki VEI 7. Di dunia ini hanya ada 4 gunung dalam 10.000 tahun terakhir yang memiliki VEI yang sangat tinggi, yaitu Krakatau, Pinatubo, Vesuvius dan Sint Helena. Tambora merupakan satu-satunya gunung yang tercatat dalam sejarah memiliki VEI 7. Setelah letusan berakhir, tercipta kaldera raksasa dengan lebar lebih dari 7 kilometer dan kedalaman 1.5 kilometer. Konon ini adalah kaldera terbesar di dunia.

Untuk mencapai puncak Tambora, ada 3 trek, yaitu trek Pancasila yang melalui sisi barat, trek Kawinda To’i dari sisi timur, dan trek selatan dekat Dorocanga. Trek selatan ini relatif paling sulit dibandingkan dengan 2 trek lainnya. Dan ternyata kami memilih trek selatan yang berat dan penuh tantangan ini.

Hari Rabu 14 Mei 2008, setelah melakukan doa bersama; kami meninggalkan Bandara Selaparang dengan 3 buah kijang dan 1 buah pick up barang. Awalnya semua lancar dan aman. Gangguan kecil terjadi ketika ban depan salah satu mobil Kijang kami kempes. Setelah beres kami melanjutkan perjalanan. Melalui radio komunikasi kami mendapat informasi dari rekan-rekan ORARI bahwa di Dompu sedang langka BBM, dan mobil-mobil Landrover yang akan mengantarkan kami pada trek awal Tambora, terancam tidak mendapat BBM.

Wah, gimana nih. Terpaksa kami berhenti sebentar, membeli 4 buah jerican untuk cadangan BBM di pom bensin. Alhamdulillah, pada pom bensin Pertamina di dekat Labuhan Lombok kami masih mendapat cadangan 4 buah jerican bensin. Berikutnya perjalanan berjalan dengan baik. Jam 9 malam kami menyeberang dari Labuhan Lombok dan makan malam diatas ferry. Banyak diantara anggota tim ekspedisi ini yang belum sempat ke Sumbawa. Jadi, sebenarnya sayang ketika kami menyusuri pantai utara Sumbawa pada waktu malam, karena tidak banyak yang dapat dilihat. Sepanjang jalan kami dipantau oleh rekan-rekan ORARI. Salah satunya YC9IX yang selalu mengikuti perjalanan kami. Beliau bahkan menawarkan agar mampir untuk sekedar beristrirahat dan minum kopi. Asyik, pucuk dicinta, ulam tiba.

SUMBAWA BESAR
Jadilah, pada Kamis, 15 Mei 2008 jam 1 tengah malam, kami berhenti sejenak di Sumbawa di rumah Ketua PPI Shalahuddin MA beliau anggota ORARI dengan call sign YC9IX. Lumayanlah sekedar meluruskan punggung dan melepaskan lelah. Apalagi disuguhi kopi panas. Sungguh terasa menyegarkan pada tengah malam hari. Setelah cukup, kami berangkat kembali. Terimakasih kepada Pak Yudha (panggilan Shalahuddin MA) yang telah membantu tim ini. Oh ya, beliau bahkan menyediakan 2 jerican tambahan berisi bensin, untuk tambahan. Perjalanan diteruskan. Di Plampang, dipinggir jalan banyak kambing yang berkeliaran. Yang menarik di leher kambing-kambing itu digantungi sepotong kayu dengan panjang sekitar 40 sentimeter, maksudnya agar kambing-kambing itu tidak dapat memasuki kebun untuk memakan tanaman didalamnya. Kreatif juga.

Jam 5.45 pagi hari kami sampai di pertigaan Manggalewa. Setelah shalat Subuh yang sedikit agak terlambat di Masjid Nurul Askar, kami minum kopi di pinggir jalan. Di tugu tengah jalan tertulis Nggahi Rawi Pahu. Semboyan Dompu. Nggahi = ngomong Rawi = kerja Pahu = rupa/bentuk. Kira-kira berarti bahwa setiap berbicara harus ada bentuknya yang nyata. Jangan omdo, omong doang, kata orang Jakarta. Menurut pemiliknya, harusnya warung itu sudah ditutup jam 6 pagi, tetapi karena kedatangan kami maka beberapa gelas kopi harus tetap dihidangkan. Terimakasih kepada ibu pemilik warung. Sayang lupa menanyakan namanya. Setelah istirahat sejenak, kami harus menunggu 3 mobil landrover dari Dompu yang akan mengantarkan kami ke Tambora. Tetapi untuk menghemat waktu, kami memutuskan untuk jalan duluan, agar lebih dapat menikmati perjalanan rute perjalanan Manggalewa – Doropeti melalui Kempo ini.

PINTU MASUK TAMBORA
Jam 10.30 kami tiba di Pos I. Pos masuk ke Kawasan Konservasi Alam Tambora, kira2 10 kilometer sebelum Doropeti. Kami membawa masuk mobil Kijang & pick up barang kami ke lokasi sekitar 5 kilometer dari pintu masuk Pos I. Mobil kami parkir di bawah pohon besar. Mobil Kijang dan pick up terpaksa harus diparkir disitu, karena tidak mampu lagi menempuh trek yang mulai berat. setelah posisi ini, kami harus menggunakan mobil 4 wheel drive untuk menempuh trek yang berat.

Dan, … bergantilah kami dengan 3 buah landrover. Jika melihat bentuknya mobil-mobil itu tidak layak disebut mobil, tetapi kemampuannya dalam melalui dan menaklukkan medan berat sungguh luar biasa. Pak Nanang, Sadam dan Maman adalah driver-driver off roader yang berpengalaman mengendalikan mobil-mobil itu.

Pada segmen trek ini kami seakan-akan berada di savana di Afrika yang sering kita lihat di TV pada tayangan National Geographic. Tanjakan tajam, lembah dan jalanan tanah bergelombang, membuat kami terus menerus terguncang-guncang! Sungguh sangat sulit untuk mencari waktu agar kamera tetap steady untuk mengambil gambar. Sungguh menikmati trek awal ini. Setiap kali mobil melewati tanjakan dan belokan tajam, atau keluar dari jalanan dan masuk ke semak-semak, kami berteriak-teriak memberi semangat kepada Pak Nanang, orang Jawa yang sudah puluhan tahun tinggal di Dompu. Seru dan heboh banget. Beberapa kali 2 mobil yang lain mengalami kesulitan teknis. Pak Nanang menjadi penyelamat mondar-mandir membetulkan kesulitan teknis yang dialami mobil lainnya.

Satu jam diperlukan untuk jarak 12 kilometer menuju ke Pos II. Kami berhenti sebentar untuk mengambil foto dan meluruskan kaki yang cukup tegang menahan tubuh agar tetap bisa tegak berdiri. Masih 7 kilometer lagi menuju ke Pos 3. Pos terakhir dimana kami akan mendirikan tenda dan menginap.

Pak Nanang membetulkan beberapa peralatan mobilnya. Dia berceritera bahwa trek yang kita lalui sebenarnya dulu pada tahun 1999 merupakan trek pemburu rusa. Pak Nanang salah satu pionir yang membuat jalur tersebut. Dia malah mengatakan bahwa seluruh kawasan Tambora sebenarnya bisa dilalui dengan kendaraannya. Dia menawarkan untuk sekali waktu melakukan safari di kawasan Tambora, 2 hari 2 malam! Sungguh tawaran yang menantang bagi yang ingin mencobanya. Setelah cukup istirahat kami meneruskan perjalanan ke Pos 3. Pada segmen terakhir trek ini, kira-kira 3 km dari Pos 3, salah satu mobil benar-benar tidak dapat meneruskan tugasnya. Pak Nanang pun kembali untuk mengevakuasi muatan dan penumpang-nya. Dan 2-3 orang peserta mencoba berjalan kaki. Katanya, aklimatisasi untuk perjalanan ke puncak. Dan, setelah berjalan mereka baru mulai berfikir keras, bisa enggak ya nanti mendaki ke puncak? Kok baru jalan di trek yang agak naik ini saja, jalannya terasa sudah begitu berat.

POS III – 1.836 M DIATAS PERMUKAAN LAUT
Dua jam kemudian, jam 01.30 siang kami sampai di Pos 3.Pos terakhir di ketinggian 1.836 meter di atas permukaan laut. Camp site, kami mendirikan tenda, 11 buah semuanya. Rekan kami dari ORARI sibuk mendirikan antenna radio. Kemudian mengudara dan bergabung dalam Nusantara Net pada freq 705.50 Khz untuk memberitakan posisi tim ini ke se antero Indonesia. Tim ekspedisi Tambora telah berada di Pos 3 pada ketinggian 1.836 M dan siap untuk tahap akhir, menyentuh puncak Tambora! Apakah dapat dicopy gitu, ganti.

Jam 5 sore, Sadam salah satu driver off roader kami yang keturunan Arab, bermaksud mencari air. Heru Legowo mengikutinya. Perjalanan untuk mencari air memerlukan usaha yang tidak mudah. Mata air ini terletak di dasar lembah yang cukup curam, dibawah rindangnya pepohonan. Bentuk mata air ini hanyalah sebuah kubangan kecil. Dan untuk mengambilnya harus diciduk dengan perlahan-lahan. Dengan potongan botol aqua perlahan-lahan pak Maman mengambil air dan measukkannya ke dalam jerigen. Penulis mencoba minum. Sungguh sangat segar rasanya. Airnya melebihi aqua yang dingin. Menurut Sadam hanya ada beberapa mata air di kawasan Tambora ini. Salah satunya, ya mata air ini.

Konon mata air ini dulu ditemukan oleh Pak Teko yang sudah almarhum. Pak Teko adalah seorang pemburu binatang yang tinggal bertahun-tahun di lembah Tambora ini. Secara berkala ada orang yang melakukan barter dengan Pak Teko ini Dengan menunggang kuda mereka menukarkan daging buruan pak Teko dengan beras, gula, kopi, rokok dan keperluan sehari-hari. Sungguh tidak dapat membayangkan, bagaimana Pak Teko dapat hidup di tengah padang yang sangat sunyi dan terpencil ini. Barangkali itu sudah jadi pilihan hidup Pak Teko.

Malam di Pos 3. Bulan separuh menggantung di langit, dikelilingi bintang gemnitang. Angin bertiup sepoi dan siluet pepohonan pinus di kejauhan memberikan nuansa tersendiri. Setelah makan malam, kami membagi kelompok dan menentukan yang akan kami lakukan pada proses pendakian akhir esok hari. Jam 10 malam kami masuk tenda. Mengenakan jaket tebal dan menarik sleeping bag bersiap tidur. Jaket dan sleeping bag ternyata tidak sanggup menahan udara dingin yang menyelusup dan membuat tubuh menggigil. Tangan yang sudah dibungkus dengan sarung tangan tebal pun terasa kebas. Tidur sulu, simpan tenaga.

PUNCAK TAMBORA
Jumat 16 Mei 2008, tepat jam 2 malam, setelah berdoa bersama dipimpin Pak Husein dari KSDA Dompu, kami bergerak naik ke puncak. Summit attack! Tim dibagi menjadi 3 grup, masing-masing dipandu oleh Erry Mildranaya, Syaiful dan Adi Kurniawan dari KSDA. Pak Nanang, Sadam dan Pak Maman driver-driver kami, ikut sebagai penunjuk jalan. Dan inilah perjalan terakhir yang mendebarkan jantung. Dibawah cengkraman udara dingin yang menusuk tulang tim bergerak perlahan tetapi pasti. Sempat berfikir keras, karena diantara anggota kami ada Pak Suwardie yang sudah operasi bedah jantung, tetapi tetap bersikeras untuk ikut naik ke puncak Tambora. Akhirnya, terpaksa penulis minta Sadam untuk menjaga Pak Suwardie. Jika ada situasi gawat, agar segera mengantarkan Pak Suwardie turun. Bismillah …

100 meter pertama semuanya nampak biasa-biasa saja. Anak-anak muda dengan kecepatan dan semangatnya, nampak tidak sabaran berada di belakang. Head lamp mereka berkelebet menyinari kegelapan trek. Melihat ketidak-sabaran mereka, saya mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dahulu. Satu demi satu mereka mendahului. Semakin jauh dan menjauh. Dan mulailah saya harus mengatur nafas untuk melangkah dengan lebih cermat. Ditengah dinginnya malam, dan udara yang tipis, nafas mulai pendek-pendek. beberapa kali penulis harus berhenti berjalan, menghirup udara yang tipis, dan menetralkan nafas. Sambil duduk istirahat, penulis bertanya kepada mas Ais rekan saya yang memegang GPS (global positioning system). Ternyata kami berada di ketinggian 2.358 M dengan kemiringan 570 Perlahan-lahan setelah beristirahat sejenak kami bergerak terus. Istirahat tidak boleh terlalu lama karena akan terlena dan dapat melemahkan semangat.

Beberapa kali kami kehilangan arah. Di beberapa lokasi, karena pada beberapa lokasi tongkat penunjuk yang diberi warna putih, dan ditancapkan, ternyata ada 2 buah pada tempat yang berseberangan. Sadam perlu berulang kali naik-turun untuk meyakinkan jalur yang tepat yang harus kami lalui. Beberapa kali kami berhenti dan menghela nafas. Mengecek keberadaan kami di GPS. Jika melihat melihat data yang tercatat di GPS, ternyata kami tercecer di belakang rombongan; dan bergerak sangat lambat.

Demikianlah setelah beberapa kali berhenti, tepat jam 05.22 saya menjadi orang ke empat terakhir yang menyentuh puncak Tambora. Alhamdulillah semua anggota tim berhasil mencapai puncak, termasuk Pak Suwardie, Aiport Duty Manager. Sungguh surprise dan juga salut. Beliau sudah menjalankan operasi jantung. Namun berkat semangat dan usahanya yang keras, akhirnya berhasil sampai ke puncak Tambora. Siapa bilang orang yang sudah dioperasi jantungnya tidak bisa naik dan mencapai puncak gunung? Luar biasa.

Puncak Tambora pada GPS kami tercatat 2.421 M, menimbulkan kesan tersendiri. Matahari yang ditunggu-tunggu ternyata terbit diantara sekelompok awan, sehingga keindahannya kurang sempurna. Di sebelah kanan masih ada puncak bukit lagi yang lebih tinggi. Sebetulnya masih ingin mendaki ke puncaknya, tetapi tenaga sudah habis. Di depan kami, nampak sebuah danau jauh di dasar kaldera Tambora. Di sebelah kiri nampak sebagian puncak Tambora dengan gigir-gigir tebing yang artistik, terjal dan curam. Menimbulkan rasa ngeri dan mendirikan bulu roma, jika melihat dasar kaldera yang begitu jauh dibawah. Inilah kaldera Tambora yang tercatat memiliki diameter 7 kilometer dengan kedalaman 1,5 kilometer. Kaldera terbesar di dunia.

Kami duduk membuat setengah lingkaran dan berdoa bersama. Mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena diperkenankan melihat sebagian dari karyaNYA yang luar biasa. Setelah beberapa saat mengambil foto keindahan puncak Tambora, merayakan keberhasilan tim dan berfoto bersama. Kemudian, kami bergerak turun.

SELAMAT TINGGAL TAMBORA
Jam 06.45 kami bergegas turun. Para pemandu kami mengingatkan agar segera turun, karena jika kabut turun menyelimuti puncak maka kami akan kesulitan mencari jalan. Perjalanan turun relatif mudah, sinar matahari yang menyirami lereng-lereng puncak Tambora menimbulkan pemandangan yang eksotis. Di kejauhan nampak perkemahan tenda kami seperti noktah kecil berwarna oranye, di kaki gunung. Di kejauhan laut, teluk Saleh nampak membiru. Di sebelah kiri nampak Dorocanga = bukit terbelah, nampak seperti kue bolu dengan belahan 4 puncaknya. Doropeti disebelah kanan nampak sayup-sayup. Yang lebih dekat adalah Dorobolo = bukit bulat. Kami mencari-cari Gunung Rinjani, tetapi tidak nampak karena tertutup awan. Sayang sekali.

Jam 10.00 setelah berkemas, melipat tenda dan membersihkan bekas-bekas plastik. Kami segera cabut dari Pos 3. Di Pos II kami bertemu sebuah Jeep DR783 yang mogok karena accu-nya tidak bekerja dengan baik. Menurut mereka, sebenarnya jam 3 sore mereka akan join kami untuk naik bersama-sama, tetapi karena masalah teknis mereka terhenti disitu. Sebenarnya malam harinya mereka memberi tanda ke atas, dengan membuat kedipan lampu-lampu mobil mereka. sayang kami tidak dapat mengartikan bahwa mereka sedang meminta bantuan kami. Pak Nanang kemudian membantu menyelesaikan kesulitan teknis mereka dan mengantarkan kami ke pos dimana mobil Kijang kami diparkir.

Jam 11.15. Tim Ekspedisi Tambora pun meninggalkan Pos I, membawa kenangan yang luar biasa dan tak terlupakan. Selamat tinggal Tambora. Begitu besar kuasa Allah SWT. Semoga keberadaanmu dan indahanmu semakin dikenal dunia.

PENUTUP
Akhirnya, tim ini membuktikan bahwa melalui kerjasama dan koordinasi yang baik, saling percaya dan saling memberi motivasi, dan ridha Allah SWT; tujuan seberat apapun akan dapat kita capai. Inilah pesan yang tersembunyi dari misi Tim Expedisi Tambora ini.

Bagi dunia pariwisata, Tambora menjadi pilihan yang menarik setelah Rinjani di Lombok. Pemerintah mestinya lebih aktif menjual Tambora, dengan memperbaiki sarana transportasi dan jalan akses ke Tambora. Penulis yakin, dengan perbaikan tersebut dapat dipastikan Tambora yang memiliki hinterland keindahan Pulau Satonda, akan mampu menarik lebih banyak wisatawan dan pendaki seperti kami ini. Mudah-mudahan. Bravo Tim Ekspedisi Tambora Selaparang.

1 Comment »
  • Bagus, dan lebih indah lagi jika ada foto2nya pak…

    Comment by surana — August 25, 2008 @ 9:42 am

  • Leave a comment








    Recent Comments
    » DHC MULAI BUKA POSKO RELAWAN PALESTINA
    01/08/2009 04:18 am | 1 Comment
    » PEMPROP NTB BANTU DANA SKRIPSI 3.000 MAHASISWA
    01/07/2009 04:20 pm | 3 Comments
    » PERTUMBUHAN PENDERITA HIV/AIDS NTB 5 BESAR NASIONAL
    01/06/2009 04:33 pm | 1 Comment
    » ENAM TAHUN ANTRIAN CALON JEMAAH HAJI NTB
    01/05/2009 02:27 pm | 1 Comment
    » GUBERNUR NTB PIMPIN AKSI SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
    01/05/2009 01:08 pm | 2 Comments
    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge