MATARAM - Akibat turunnya produksi dan eskpor hasil pertambangan non migas di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama triwulan II-2008, product domestic regional brutto (PDRB) NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 merosot 5,09 persen atau berkurang dari semula triwulan I-2008 sebesar Rp3,873 triliun menjadi Rp3,676 triliun. PDRB pertambangan dan galian di NTB merosot dari semula Rp3,197 triliun menjadi hanya Rp1,752 triliun.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Mariadi Mardian, penurunan PDRB NTB ini disebabkan tingkat produksi dan penjualan hasil pertambangan non migas yang menurun. ‘’Karena sektor pertambangan dan penggalian sebagai penyumbang nilai tambah yang cukup besar bagi PDRD NTB setelah sektor pertanian,’’ ujarnya, Kamis (14/8) sore.
Meskipun ia menolak menyebutkan nama perusahaannya yang mengalami penurunan produksi, data BPS NTB yang diperoleh dari Dinas Pertambangan dan Energi NTB itu dipastikan adalah tambang PT Newmont Nusa Tenggara (NTT). Sebab, 90 persen produksi pertambangan non migas NTB adalah berasal dari tambang tembaga, perak dan emas yang dilakukan oleh PT NNT. Pada kenyataannya, PT NNT hanya mengolah stock pile (cadangan batuan yang rendah kandungannya).
Manajer Public Relations PT NNT Kasan Mulyono membenarkan menurunnya produksi tambang perusahaannya, akibat genangan air hujan di bagian bawah pit (lubang tambang). ‘’Seperti biasanya karena habis musim hujan,’’ katanya menjawab konfirmasi LombokNews, Kamis (14/8). Biasanya, pada hari kerja normal, PT NNT menambang 600.000 ton batuan setiap harinya.
Negatifnya pertumbuhan PDRB NTB tersebut pada triwulan II-2008 sebesar -5,09 persen disumbang oleh pertambangan dan penggalian hingga -39,36 persen dibanding triwulan I-2008. Sedangkan bila dibandingkan triwulan II-2007 juga terjadi -41,59 persen. Karenanya, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap perekonomian NTB mengalami penurunan dari semula 38,52 persen menjadi 23,45 persen.
Selain pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan pertumbuhan, juga lapangan usaha bangunan -20,09 persen, listrik gas dan air bersih -4,96 persen. Adapun lapangan usaha pertanian mengalami pertumbuhan 16,30 persen, kemudian perdagangan, hotel dan restoran 12,89 persen.
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Wigiarso menjelaskan bahwa sebenarnya peran tambang itu kecil dalam perekonomian rakyat secara keseluruhan. Namun nilainya mempengaruhi keseluruhan perekonomian NTB. ‘’Perekonomian NTB melambat akibat lebih banyak dipengaruhi produksi pertambangan,’’ ucapnya.
Secara keseluruhan PDRB NTB masih didominasi sektor primer yaitu sektor: pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Kedua sektor tersebut memberikan kontribusi 49,04 persen. Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran 15,16 persen, sektor jasa 10,80 persen, dan sektor angkutan dan komunikasi 8,85 persen. Adapun sektor industri pengolahan, listrik, gas, air bersih, bangunan, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dibawah tujuh persen.(supriyantho khafid)

