MATARAM – Inflasi yang terjadi di dua kota besar se Nusa Tenggara Barat (NTB) telah melebihi dua digit yaitu 10,51 persen selama tahun kalender tujuh bulan terakhir ini. Angka tersebut lebih tinggi dari angka rata-rata nasional sebesar 8,85 persen. Sedangkan laju inflasinya dari Juli 2008 terhadap Juli 2007 sebesar 13,89 persen.
Kalau dilihat per kota, inflasi tahun kalendernya di Bima sudah mencapai 11,08 persen dan di Mataram 10,36 persen. Tingginya angka inflasi tersebut disebabkan kenaikan harga yang cukup tajam perumahan, listrik, gas, air dan sandang. Sedangkan inflasi selama sebulan terakhir Juli 2008, angka gabungan inflasi di Mataram dan Bima sebesar 1,56 persen. Lebih tinggi dibanding angka nasional yang hanya 1,37 persen. ‘’Inflasi ini akibat kenaikan harga yang cukup tajam. Dikawatirkan struktur ekonomi mulai goyah,’’ kata Kepala Badan Pusat Statistik NTB Mariadi Mardian dalam keterangan persnya, Jum’at (1/8) sore.
Ia juga menjelaskan perbandingan inflasi yang terjadi di wilayah Bali, Nusa Tenggara pada sebulan terakhir, Juli 2008. dari 66 kota se Indonesia yang seluruhnya mengalami inflasi, yang tertinggi di kota Manokwari sebesar 4,33 persen dan terendah di kota Banda Aceh 0,25 persen, inflasi di kota Denpasar 1,63 persen dan Kupang 1,13 persen. Mataram 1,72 persen dan Bima sebesar 0,98 persen. Adapun laju inflasi kota Mataram Juli 2008 terhadap Juli 2007 sebesar 13,47 persen dan Bima 15,47 persen.
Untuk mengatasinya diperlukan strategi kebijakan pengendalian moneter dan juga pengendalian fiskal. Dikawatirkan kalau inflasi dibiarkan terus sampai mencapai 20 persen, bisa merusak perekonomian masyarakat dan menimbulkan terjadinya pengalaman 1997, muncul people power karena keresahan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Menurutnya, sebaiknya inflasi berkisar 5-6 persen. Semula ditargetkan oleh pemerintah hanya mencapai delapan persen.(supriyantho khafid)


