MATARAM - Irwan, 7 tahun, berbadan pendek dan kurus. Ia terpendek diantara teman-teman sekelasnya. Wajahnya pucat. Bersama teman sekelasnya, pagi itu, menerima pembagian sebungkus biskuit berisi lima keping. Ada juga pembagian sekantong plastik berisi sikat gigi, odol, sabun mandi. ”Ya saya senang dapat biskuit,” ujarnya, selepas diberikan jatah untuknya oleh guru di kelasnya, Joharo.
Anak kedua dari Amaq Jaya, seorang buruh tani yang sedang memburuh di ladang kelapa sawit di Malaysia tersebut, gembira mendapatkan biskuit tersebut. Dari rumahnya, ia tidak dibekali uang jajan. Irwan yang baru duduk di kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Wathan (MI NW) 2 di Dusun Borok Tumbuh Desa Suralaga Kabupaten Lombok Timur.
Ya pembagian biskuit, sabun mandi, odol dan sikat gigi itu adalah bagian dari program Fresh (Focusing, Resourch, of Effetive School Health) yang dilaksanakan oleh World Food Programme- United Nation (UN-WFP) di Lombok.
Seorang guru di MI NW 2 tersebut, Robiatul Adawiyah mengakui, anak didiknya umumnya adalah anak kurang berada, umumnya buruh tani. Muka mereka pucat. Tingkat berpikirnya agak lemah, kurang konsentrasi untuk belajar. ”Masalah kebersihan juga kurang. Tadinya terbiasa mengandalkan sungai,” ujar Robiatul, perihal kebiasaan melepas hajat buang air besar-nya. Di sana, selembar spanduk dipasang di depan pintu sekolah bertulisan : Buanglah Air Bersih di Jamban/Kakus/WC Untuk Mencegah Diare.
Kini, setelah sekian lama menjalani program WFP-UN, di sekolah terbiasa memperoleh asupan biskuit dan terbiasa menggunakan kamar mandi di sekolah. Malah, sebagian sekolah seperti di SDN 3 Tebaban sudah memiliki fasilitas cuci tangan menggunakan kran di depan kelas masing-masing.
Hasilnya, ujar Muhammad Ali, guru agama di MI NW 2 tersebut, banyak terjadi perubahan. Mereka menjadi rajin, kehadiran meningkat 4 persen. ”Semangat dan konsentrasi belajar meningkat,” ujar Ali. Dan, dari sisi kesehatan, pemberian biskuit setiap hari di sekolah mampu mengurangi masalah ketidak cukupan gizi dan meningkatkan pola hidup bersih dan sehat.
Fresh disebut oleh Kepala SDN 3 Tebaban Muhammad Nursedah Iksir, telah menjadikan sekolah lebih bersih. Siswa kelas 4-5-6 sebelum masuk kelas menyapu halaman dan kelas terlebih dahulu. Ada ”dokter kecil” yang memantau kebersihan teman-temannya. ”Ada perubahan. Anak-anak menjadi segar,” katanya. Mereka juga minum air yang sudah dimasak terlebih dahulu. Dan dari absensi, kalau sebelumnya rata-rata setiap hari ada 3-4 orang anak yang tidak masuk sekolah, kini dikatakan hampir utuh masuk semuanya. ”Kurang sekali yang absen,” ucap Nursedah.
Sejak 2007 lalu, UN-WFP menggagas Together fo Chlid Vitality (TCV), kemitraan dengan Unilever - sebagai bentuk program Corporate Social Responsibility - di Indonesia, lainnya dilakukan di negara Kenya, Ghana dan Columbia. Representative & Country Director UN_WFP Angela Van Rynbach mengatakan melalui school feeding program TCV melakukan intervensi nutrisi kepada sasaran, memberikan biskuit yang sudah difortifikasi. ”Agar anak-anak kekurangan gizi khususnya penderita anemia dapat berkurang,” katanya. Biskuit yang difortifikasi itu berisi 9 vitamin (A,B1,B2,B6,B12,Niasin, Asam, Folat, D dan E) dan 5 mineral (zat besi, zinc, yodium, kalsium dan selenium).
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), program Fresh WFP-UN ini diberikan di Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Menurut General Manager Unilever Peduli Foundation Sinta Kaniawati kepada LombokNews, perusahaannya menyediakan EUR 250.000 untuk 75 sekolah yang terbagi di NTB 55 sekolah dan 20 di Belu Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Kami akan bermitra selama tiga tahun,” ucap Sinta di sela kunjungan. Ada kemungkinan diteruskan kalau berdampak baik.
Selama 2007, program ini telah menjangkau 560.80-0 anak sekolah dasar (SD) di Indonesia. Tahun 2008 ini menjangkau lebih dari 250.000 anak SD di Jakarta, Surabaya, Madura, Lombok NTB dan Kupang NTT.(supriyantho khafid)

