MATARAM - Disaksikan oleh sekitar 10.000 warga, dimeriahkan oleh atraksi adat budaya tradisional Lombok, Festival Senggigi ke-8 dibuka Direktur Jenderal Pemasaran Sapta Nirwandar menggunakan pukulan kentongan di kawasan wisata unggulan Senggigi Lombok Barat (Lobar), Sabtu (19/7) petang kemarin. Diawali upacara Enjenengan Pamusung sebagai tradisi penobatan seorang pejabat di daerah yang sudah lama tidak dilaksanakan di Lombok, mengundang kagum ratusan wisatawan mancanegara yang ikut menyaksikan secara langsung pembukaan Festival Senggigi tersebut.
Bertemakan The Lombok Island Colour of Culture yang diikuti oleh utusan dari desa adat di Lobar tersebut, berlangsung selama lebih dua jam. Adalah Enjenengan Pamusung sebuah upacara penobatan seorang pimpinan yang dulu menjadi tradisi di desa, kecamatan atau kepala daerah yang lebih tinggi. Sesungguhnya, tradisi tersebut ada hidup di masyarakat tapi sudah lama ditinggalkan karena sistem pemerintahan yang berbeda.
Mengandung makna membawa pesan moral, seorang calon pemimpin yang dinobatkan terlebih dahulu diantar oleh sekelompok keluarga diserahkan kepada majelis adat tertinggi di tempatnya. Setelah diterima, dikelilingkan sebanyak tujuh kali di sebuah berugak (semacam bangunan tempat duduk berkumpul beberapa orang yang terbuat dari kayu pohon Ketujur). Kemudian ”dijanjam” (disumpah) dengan pesan moral sehingga dapat memimpin dengan amanah kerpada rakyatnya. Seterusnya, mendapatkan gendongan kain Umbak berisi gantungan uang 225 biji kepeng (uang logam zaman dahulu). Terakhir, diberikannya sebilah keris sebagai simbol huruf Alif (kembali kepada Allah) yang sarungnya merupakan wujud tubuh.
Menurut Kepala Sub Dinas Pesona Seni Budaya Dinas Pariwisata Seni Budaya Lobar Lalu Suhaimi selaku Wakil Ketua Panitia Pelaksana Festival Senggigi, makna sejumlah gantungan 225 biji kepeng adalah sembilan (2 ditambah 2 ditambah lima) yaitu melaksanakan amanah sesuai bagian tubuh manusia mulai dari mata, hidung, telinga, mulut, dubur, dan bahkan pusar. ”Kalau selesai jabatannya, juga upacaranya dilakukan, untuk mengantar kembali kepada keluarganya,” kata Suhaimi. Oleh-oleh yang dibawanya pulang adalah berupa sepasang hewan ternak bisa berupa burung yang menjadi ikatan. Termasuk biji tanaman.
Karena ditinggalkannya tradisi sebelum memimpin tersebut, Suhaimi menyebut tidak heran kalau banyak pemimpin yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. ”Karena tidak menjalankan amanah seperti yang diharapkan,” ujarnya kemudian.
Salah seorang wisatawan mancanegara asal Belanda Hans Tulif mengaku terkesan dengan atraksi pembukaan Festival Senggigi tersebut. Menurutnya, musik pengiring tarian Sasak yang ikut dalam parade pembukaan tersebut dinilainya iramanya enerjik ”Ya saya enjoy dengan adanya atraksi ini. Apalagi yang main banyak anaknya, lucu,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Seni Budaya Lobar Tjokorda Suthendra Rai melaporkan bahwa Festival Senggigi ini merupakan kalender kegiatan atraksi pariwisata yang berlangsung meluas diikuti oleh daerah lain. ”Kalau dulu hanya lokal NTB. Kini sudah diikuti provinsi lain,” ucapnya.
Festival Senggigi ini akan berlangsung selama tujuh hari hingga Jum’at (25/7) mendatang. Di sana, akan berlangsung berbagai pentas tradisional Sasak ditambah pentas kesenian dari peserta luar daerah seperti Nanggro Aceh Darusalam dan Banyuwangi Jawa Timur. Selain adanya pameran industri kerajinan, makanan daerah.
Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta mengatakan bahwa kebudayaan sangat penting untuk sektor pariwisata. ”Kami siap dan bersedia untuk mendukung promosinyaa,” ujarnya. Apalagi tahun ini adalah merupakan tahun kunjungan wisata Indonesia. Mudah-mudahan Lombok bisa menjadi terdepan dalam kunjungan wisatawannya. Sebab, tren kunjungan wisman statistiknya terlihat meningkat. Kalau sebelumnya ada keluhan kurangnya penerbangan ke Lombok, maka sekarang sebaliknya, terjadi kekurangan tempat duduk dari maskapai yang mengisi rute Jakarta-Mataram atau Surabaya-Mataram.(supriyantho khafid)




