MATARAM - Gubernur Bank Indonesia Boediono berpendapat harus ada kesepakatan global untuk menggembosi inflasi. Tidak mungkin satu negara bisa melakukan penggembosan inflasi secara sendirian. Harus dilakukan secara bersama-sama.
Boediono mengemukakan kepada wartawan setelah berbicara di depan 400an sarjana ekonomi anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia yang bertemu dalam forum Pangan, Energi dan Kebijakan Harga yang berlangsung di Hotel The Santosa Senggigi Lombok, Kamis (17/7) pagi. ”Harus kordinatif melakukannya secara bersama-sama,” ujarnya.
Menurutnya, satu negara tidak mungkin melakukan penggembosan karena bebannya besar sekali dan Indonesia tidak mau melakukannya. Yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah menghadapi masalah sendiri. ”Yang kita lakukan adalah mengendalikan second round effect dari kenaikan harga BBM,” katanya. Antara lain, melakukan pengiritan cadangan devisa, operasi pasar terbuka untuk mengendalikan jangan sampai kenaikan harga BBM merembet ke harga yang lain.
Juga dari segi fiskal misalnya upaya untuk mengamankan harga bahan pokok pemerintah. Di Indonesia, penanganannya bersama-sama antara otoritas moneter dan otoritas fiskal supaya kebijakannya sinkron.
Pengalaman tahun 2005, dua bulan pertama adalah puncak inflasi setelah diumumkannya kenaikan harga BBM. Tetapi setelah bulan ketiga, inflasi bulannya menurun normal bahkan ada yang negatif. Meningkat dulu tetapi kembali. Kalau saat ini terjadi juga, Mei-Juni puncaknya setelah itu kembali normal. Sampai dengan bulan Juni lalu, inflasi antar tahun (year to year) mencapai 11,03 persen. Kalau inflasi bulan Juli ini yang dilaporkan bulan Agustus, angkanya di bawah 11,03 persen makan berarti puncaknya telah lewat. ”Berarti ada perbaikan,” ujarnya.
Dikatakannya bahwa kini sedang disiapkan instrumen untuk sasaran inflasi 2009 sebesar 6,5 persen hingga 7,5 persen. ”Apapun yang kita lakukan sekarang sesuai dengan rencana,” ucapnya.
Sebelumnya, ia berbicara masalah faktor moneter atau unsur spekulatif dari kenaikan harga pangan dan energi akhir-akhir ini. Ia yang mengaku termasuk kelompok yang percaya bahwa harga pangan dan energi, terutama energi, mengandung elemen spekulatif atau bubble yang cukup signifikan. Apabila pada suatu saat gelembung ini gembos, harga akan turun ke tingkat yang lebih normal di bawah harga yang sekarang ini. Tetapi ia akan tetap tinggi karena dalam waktu dekat kenaikan suplai belum akan cukup untuk memenuhi permintaan yang memang tinggi dan terus meningkat.
Diakuinya tidak tahu persis berapa besar unsur spekulatif ini, tetapi ada yang memperkirakan bahwa sekitar 30 persen dari harga minyak mentah yang berlaku di pasar sekarang adalah bubble. Kalau harga minyak turun, harga pangan juga akan turun.
Dijelaskannya bahwa bubble tumbuh berdasarkan pada adanya faktor pskilogi pada pelaku pasar yang mempercayai bahwa harga komoditi yang menjadi obyek spekulasi akan terus meningkat ? suatu pikiran yang sebenarnya tidak logis tetapi dalam suasana eforia sering mendominasi perilaku mereka. Hukum grativitasi mestinya juga berlaku bagi fenomena ekonomi - what goest up must, at some point, go down. Pelaku pasar yang dihinggapi psikologi bubble percaya bahwa turning point tersebut belum akan tiba hari ini.
Penanganan segi moneter dari commodity boom ini dekat dengan tugas bank sentral di berbagai negara. Basis dari adanya bubble adalah ekspektasi bahwa harga akan terus naik di waktu yang akan datang. Bubble akan gembos atau dapat digembosi, apabila kebijakan uang ketat diterapkan. Karena ini adalah masalah global, agar efektif pengetatan moneter itu harus dilakukan secara global pula. Dilemanya di sini mirip dengan dilema untuk mendorong pemanfaatan teknologi baru tadi. Yakni adanya coordination problem. Masing-masing engara akan merespon sesuai dengan kondisi yang dihadapi masing-masing. Masing-masing negara akan menunggu waktu yang tepat untuk mengetatkan kondisi moneter sambil berharap agar harga komoditas global, terutama minyak, menurun.
Proses menunggu ini sebetulnya tidak perlu terjadi apabila terdapat kordinasi global. Jika beban pengetatan moneter tersebut dipikul bersama, maka hanya diperlukan sedikit pengetatan moneter di tiap negara sehingga lebih efektif dalam menekan kenaikan ekspektasi harga. Sayangnya, Bank Sentral Amerika Serika The Fed yang berperan besar dalam kondisi moneter global dihadapi permasalahan lain yang cukup pelik yakni masalah subprime mortgage yang kemudian berkembang menjadi krisis finansial yang lebih luas. Fed lebih mengutamakan penyelamatan sistem keuangannya dengan cara memberi kelonggaran moneter. Tidak heran jika ekspektasi inflasi tetap tinggi.
Jika ekspektasi inflasi tetap tinggi dan berlanjut, maka pengendalian inflasi akan kian sulit. Penyesuaian yang cukup kerasdan beresiko tinggi seperti resesi kian sulit dihindari. Resesi global 1981-1982 seharusnya memberi pelajaran berharga. Pada saat itu, otoritas moneter cenderung mengakomodasi kenaikan harga ketika terjadi oil shock. Karena kenaikan harga minyak memberikan efek kontraksi, resep yang diberikan adalah dengan melonggarkan kebijakan moneter untuk mencegah slow-down, sehingga ekspektasi inflasi tidak kunjung turun. Akibatnya yang terjadi justru bertolak belakang, terjadilah resesi.
Yang patut dicatat, kata Boediono, adalah adanya perbedaan mendasar pada masa 1981-1982 dengan saat ini. Dulu kebijakan moneter tidak memiliki jangkar nominal (nominal anchor) yang jelas. Kini seiiring dengan penerapan inflation targeting, jangkar nominal adalah target inflasi kedepan. Inflasi ke depan inilah yang seharusnya menjadi acuan bagi pasar dan masyarakat luas. Jika ekspektari inflasi masyarakat tadi sudah sesuai dengan target yang ditetapkan maka dapat mencegah meluasnya kenaikan harga. Karena kita tidak ingin kenaikan harga komoditas memberikan dampak lanjutan (second round effects) ke harga barang dan jasa lainnya. Jika kenaikan ini juga diikuti oleh kenaikan gaji dan upah, proses spiral inflation dapat terjadi. Itu sebabnya kebijakan moneter harus mencegah meluasnya dampak lanjutan tersebut. Keberhasilan ini amat tergantung dari keberhasilan kita mengendalikan ekspektasi inflasi.
Syarat utama dari keberhasilan pengendalian ekspektasi inflasi adalah kredibilitas bank sentral. Kredibilitas yang dinilai dari jejak rekam bank sentral. Jika setiap kali terjadi shocks, bank sentral bersikukuh untuk tetap mendepankan stabilitas harga dari pada pertumbuhan, maka kredibilitas bank sentral sebagai penjaga stabilitas akan terbentuk . satu hal yng telah dibuktikan oleh Bundesbank di masa lalu dan nampaknya yang ingin diulang oleh European Central Bank saat ini.(supriyantho khafid)




