Lombok Sumbawa Online

Jual Link/Bandwidth IIX & Internasional Utk Seluruh Indonesia
call. 081-3535-70001 www.andira.co.id
Google
 
Monday, 14 July 2008 • DAERAH

MATARAM - Tidak pernah terbayang sebagai Gubernur ? ”Tidak tahu ya. Seperti air mengalir saja. Dulu waktu kecil ingin jadi tentara dan ketika besar ingin jadi polisi,” ujarnya sewaktu ditanya LombokNews, Senin (7/7) malam, selesai menggelar jumpa pers pertama kemenangannya dari quick count (qc-penghitungan cepat) yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) - Jaringan Isu Publik (JIP).

Itulah Tuan Guru Bajang (TGB) Kiyai Haji Muhammad Zainul Madjdi, 36 tahun, calon termuda Gubernur di Indonesia yang berasal dari kalangan ulama, seorang pemimpin ormas, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (NW) di Pancor Kabupaten Lombok Timur. Seorang anak nomor tiga dari lima bersaudara keluarga seorang mantan birokrat Haji Muhammad Djalaludin dengan istrinya Siti Rauhun.

Dalam pemilihan yang bersamaan waktunya, seorang kakaknya Muhammad Syamsul Lutfi yang sebelumnya sebagai Ketua DPRD Lombok Timur juga terpilih sebagai calon Wakil Bupati berpasangan dengan seorang birokrat Departemen Agama Sukiman Azmi yang juga pernah menjabat Komandan Kodim di Lombok Timur.

Hari itu, sore, Direktur Eksekutif LSI Denny JA dalam gelar hasil qc Pemilihan Kepala Daerah Gubernur - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (Pilkada NTB) yang dilakukan di 320 tempat pemungutan suara se NTB. Hari itu disebutnya adalah moment yang historik. Pertama dalam sejarah pilkada NTB yang memilih langsung Gubernur-Wakil Gubernur. ”Selamat datang Gubernur termuda terpilih di Indonesia,” kata Denny.

Angin segar saatnya yang muda yang memimpin. Dan merupakan kemenangan David melawan Goliath. Sebab saingannya adalah Gubernur NTB Lalu Serinata selaku incumbent dan Ketua DPD Partai Golkar yang berpasangan dengan M Husni Djibril (Sekretaris DPD PDIP NTB). TGB yang berpasangan dengan mantan Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah NTB Badrul Munir, 54 tahun, dicalonkan oleh Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sejahtera.

Pada gelar jumpa pers, malam itu, TGB berjanji akan melaksanakan janjinya seperti yang disampaikan dalam visi misinya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kebijakan yang populis keberpihakan kepada masyarakat, itulah yang memang menjadi niatan program kerjanya nanti. ”Pemimpin yang berpihak kepada rakyat,” kata anggota Fraksi PBB di DPR RI tersebut.

Menurutnya, pada saatnya nanti Insya Allah kalau diberikan amanat, semua akan dikomunikasikan dengan intensif kepada anggota DPRD dan diyakini teman-teman di DPRD akan betul-betul mampu melihat mana yang memang merupakan hajat masyarakat. Program yang memang menyentuh masyarakat. ”Saya pikir dukungan itu pasti akan datang,” ucap salah seorang cucu dari seorang ulama besar di Pancor Lombok Timur, almarhum Tuan Guru Kiyai Haji Maulana Syech Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ? tokoh pendiri NW.

Yang bersangkutan berada di rumahnya di Pancor Kabupaten Lombok Timur. Bapaknya, Haji Muhammad Djalaluddin, 81 tahun, yang tinggal di rumahnya di Jalan WR Supratman 2 Mataram, sewaktu ditemui LombokNews, mengatakan anaknya tersebut cerdas sejak kecil.

Sewaktu sekolah di madrasah tsanawiyah melompat dari kelas satu ke kelas tiga. Dan ketika ujian negara SMA 1991 ? karena dia sekolah Madrasah Aliyah Muallimin NW Pancor - di Mataram menjadi siswa terbaik angka kelulusannya. ”Saya sampai ditelpon dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan NTB,” ujar Djalaluddin, yang sebelum pensiun menjabat Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal NTB.

Nah, setelah memiliki ijazah SMA tersebut, TGB disekolahkan ke Universitas Al Azhar di Kairo, S1 lulus 1995 dan Magister 2001. Kini menjalani program doktornya yang diharapkan bisa selesai 2008 ini. ”Ia hidup sederhana selama di sana. Tidak royal dan tidak merokok,” kata Djalaluddin. Sewaktu kecil, ia sekolah di SD Negeri 6 di Mataram. Kemudian ikut kakeknya Maulana Syekh di NW di Pancor.

Dikatakan oleh Djalaluddin yang alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 1963, mengaku semula dirinya meminta Didi - begitu panggilan Zainul sehari-hari di rumah, disarankan untuk menjadi calon bupati di Lombok Timur terlebih dahulu. Kemudian, Djalaluddin yang melihat anaknya belum berpengalaman di birokrasi dan masih muda juga meminta sebaiknya sebagai wakil gubernur dulu. ”Tetapi setelah istikharah, dia mantap menjadi calon gubernur,” ucapnya.

Mengenai kemungkinan seorang ulama yang menjadi kepala daerah nantinya sering didatangi pendemo dan menghujatnya, Djalaluddin mengatakan anaknya yang disebutnya hampir tidak memiliki musuh akan terbuka terhadap kritik sebagai bentuk kebebasan berpendapat dalam era demokrasi.

Karenanya, Djalaluddin yang selama 20 tahun terakhir (1987-2007) menjabat Sekretaris Palang Merah Indonesia NTB ia meminta Didi agar mengemban amanat. ”Mudah-mudahan dia mampu dan tetap pendiriannya seperti dalam kampanyenya,” katanya. Hanya satu yang dimintanya kepada Didi, laksanakan tugas sesuai ketentuan dan hindari penyimpangan dan korupsi. Tidak hidup menonjol agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kemudian, Djalaludin mengatakan bahwa semua keberhasilan anaknya dalam hidup adalah berkat jasa ibunya, Siti Rauhun. ”Karena itu saya mendatanginya. Mengucapkan terima kasih telah membimbing Didi sehingga menjadi orang,” kata Djalaludin yang bercerai dengan Siti Rauhun, tahun 1977.

Yang menonjol dalam visi misi TGB adalah bebas biaya pendidikan dan bebas biaya kesehatan untuk masyarakat. Karena itu TGB sudah mengatakan seluruh ikhtiar untuk ukhuwah akan dilakukannya. ”Agar teman-teman di DPRD bisa sepaham,” ujar TGB.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com