MATARAM - Penyebab kematian ibu di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terbesar adalah perdarahan sebesar 42 persen dari total penyebab kematian. Sedangkan kematian bayi disebabkan paling besar oleh BBLR (Berat Badan lahir Rendah) dan Asfiksia. Penyebab makro tersebut diperkirakan berkaitan dengan status gizi ibu dan perilaku pemeriksaan kehamilan yang kurang optimal. Anemia gizi pada ibu hamil tercatat dari Survey Cepat Dinas Kesehatan 2002 sebesar 77,01 persen.
Kepala Bidang PP III (Sosial Budaya dan Pemerintahan) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB I Gusti Rai Sukertha menyebutkan penyebab kematian ibu tersebut sewaktu memaparkan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) NTB di urutan ke-32 secara nasional. ”Rendahnya IPM di NTB ini karena kesehatan dan pendidikan. Padahal secara ekonomi NTB di urutan ketujuh,” ujarnya kepada LombokNews, pagi ini.
Karena di ukur dari daya beli masyarakat, NTB berada di urutan tujuh nasional, maka menjadi tanda tanya rendahnya derajat kesehatan dan pendidikan tersebut. Ia menyebutkan pola asuh karena dilakukan bukan oleh orang tuanya sendiri. Tingkat pelayanan kesehatan sudah memadai, misalnya jumlah 133 puskesmas dan 400an puskemas pembantu sudah tersebar di seluruh daerah kabupaten dan kota se provinsi. Dan seterusnya Pemerintah Provinsi NTB akan memaksimalkan fungsi posyandu.
Ia menyebutkan bahwa derajat kesehatan mengalami perbaikan selama setahun terakhir ini, 2007/2008. Data Mortalitas yang merepresentasi derajat kesehatan adalah Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu. Secara umum, kedua angka tersebut mengalami perbaikan di provinsi NTB. Angka kematian ibu (AKI) menurun dari 780 per 100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 1986 menjadi 394 (2002).
Bahkan menurut rekapitulasi data di Departemen Kesehatan pada tahun 2006, angka kematian ibu di NTB tercatat 231 per 100.000 KH, yang ternyata lebih rendah dari angka nasional, yaitu 236. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) juga menurun dari 74 per 1000 kelahiran hidup (2002) menjadi 66 (2005). Angka ini hampir dua kali lipat angka nasional, yaitu 32 per 1000 kelahiran hidup. Sehingga angka harapan hidup mengalami peningkatan dari 60,5 tahun (2005) menjadi 60,9 tahun (2006).
Namun demikian penurunan AKB ini tidak cukup untuk meningkatkan angka/skor IPM Provinsi NTB. IPM Provinsi NTB pada tahun 2006 masih di posisi 32 dari 33 Provinsi yang ada.(supriyantho khafid)




