MATARAM - Pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat terancam kehilangan dokter spesialis. Dokter spesialis yang tersedia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mataram akan pensiun. Sedangkan sebelumnya, RSUD Mataram masih membutuhkan 18 orang dokter spesialis tambahan. Rumah Sakit Jiwa Mataram pun hanya memiliki seorang dokter jiwa padahal seharusnya dilayani oleh 5 orang dokter jiwa. Kesulitan dokter spesialis ini disebabkan tidak ada yang bersedia di tempatkan di NTB karena dianggap bukan daerah yang diminati.
Saat ini, sudah tempat orang dokter spesialis yang harus pensiun karena usianya 56 tahun. Mereka adalah spesialis jantung, bedah, anak-anak dan rontgen. ”Permohonan tambahan sudah diajukan tetapi tidak kunjung datang,” ujar Kepala Bidang PP III (Sosial Budaya, Kesehatan, Perhubungan) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB I Gusti Rai Sukertha menegaskannya kepada LombokNews, pagi ini.
Untuk mengatasi kesulitan ditinggal pensiun disebabkan kebutuhannya yang mendesak karena tidak ada yang berkenan bertugas di NTB, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mengusulkan para dokter yang sudah waktunya pensiun tersebut diperpanjang masa dinasnya dengan dialihkannya status menjadi widyaiswara (pengajar) di Balai Pelatihan Kesehatan NTB. Politeknik kesehatan atau di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Sedangkan untuk jangka panjang, Pemprov NTB akan menyekolahkan para dokter umum di daerahnya sendiri mengikuti pendidikan spesialis.
Dalam waktu segera, RSUD Mataram yang akan meningkat menjadi type A, memerlukan adanya dokter baru anestesi, patologi klinik, rehabilitasi medik, THT (telinga hidung tenggorokan), kesehatan jiwa, jantung dan pembuluh darah, bedah ortopedik, patologi anatomi, kedokteran kehakiman (forensik), orthodontis (tulang gigi).(supriyantho khafid)


