MATARAM - 200an perempuan pegiat PKK, posyandu, guru, ibu rumah tangga berkumpul membicarakan Revitalisasi Peran Politik Perempuan Dalam Pilkada Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (3/7) pagi di Mataram.
Koordinator Perkumpulan Perempuan Peduli Pendidikan Dan Politik NTB Siti Husnin menyebutkan perlunya pencerahan kepada perempuan bahwa politik bukan hal yang tabu. ”Perempuan harus segera mengambil peran,” ucapnya.
Menurutnya, dalam peta politik di NTB, peran perempuan masih sangat lemah. Disebutnya dalam kepengurusan hampir semua partai, sangat sedikit jumlah perempuan yang menjadi pengurus. ”Yang ada hanya sebagai pemanis. Sedikit yang memiliki jabatan menentukan kebijakan,” ujarnya.
Selama ini, keberadaan perempuan sebagai anggota DPRD di NTB sangat sedikit. Di DPRD NTB ada 5 dari 55 orang anggotanya dan di DPRD Kota Mataram ada 4 dari 35 orang anggotanya. Itupun diantara mereka hanyalah sebagai pengganti antar waktu.
Mereka yang hadir dalam acara pencerahan tersebut juga diajak untuk menentukan hak pilihnya pada Pilkada NTB yang berlangsung 7 Juli, untuk menentukan pemimpin yang layak mampu menyelesaikan rendahnya indeks pembangunan manusia Manusia (IPM) yang berada di urutan dua dari belakang di Indonesia, adanya busung lapar dan besarnya jumlah pengangguran.
Seorang pegiat kepemudaan di NTB Ratu Wulla membeberkan rendahnya IPM disebabkan pendidikan yang rendah lamanya hanya 6,8 tahun dan buta huruf menjadi meningkat, jumlah terakhir masih ada 161.700 orang. Juga tingginya indeks kematian ibu dan bayi, kurangnya tenaga medis dan sarana pelayanan kesehatan yang minim diakibatkan rendahnya tingkat ekonomi, yang berdampak terhadap kemiskinan dan kurangnya budaya hidup sehat. Sehingga menyebabkan terjadinya busung lapar. ”Pengangguran juga disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan, karena kurangnya pendidikan dan tidak adanya keahlian,” kata Ratu Wulla.
Pegiat perempuan lainnya, Baiq Mulianah mengurai perempuan NTB yang banyak melakukan kawin muda sehingga berakibat tingginya perceraian menimbulkan masalah yang tidak ringan. Janda-janda muda yang tidak terurus dan menjadi beban kedua orang tuanya menambah kompleks persoalan. Belum lagi anak-anak yang lahir dari hubungan tersebut, membutuhkan perhatian orang tua dan asupan gizi dan kesehatan yang memadai.(supriyantho khafid)


