MATARAM - Sebuah filem yang mengisahkan benturan peradaban modernisasi globalisasi dan tradisi perempuan Sasak Lombok segera diproduksi di Lombok. The Last Sasak Women, adalah judul dari produksi kedua Nusantara Cinema karya Shandy Nur Muhammad, sutradara muda tamatan Fakultas Filem dan TV Institut Kesenian Jakarta 2004. Produksi pertamanya, Bunga Tergilas Kertas akan diputar perdana Agustus mendatang.
Menurut Shandy, The Last Sasak Woman mengangkat ketidak siapan perempuan Sasak menjalani shock culture. Misalnya, contoh konkrit, di satu sisi mempertahankan tradisi namun di sisi lain berhadapan dengan globalisasi yang dapat menggilasnya. ”Saya ingin pada akhirnya mempertahankan tradisi. Salah satu cara sering kita dengar adalah muatan lokal. Ingin mempertahankan tradisi lama perempuan,” katanya kepada LombokNews.
Dikatakannya bahwa ketika semua tercabik-cabik oleh globalisasi, perempuan yang diangkat dalam filem itu ingin kembali kepada hal-hal yang berbau lama, basic to natural. Kenyataan harus dihadapi, ketika pada posisi itu, yang menang bisa hidup dan yang kalah tidak bisa hidup. ”Sesungguhnya globalisasi melahirkan langkah dan peradaban,” ujarnya.
Filem yang akan dibuat panjang waktu putarnya 110 menit memerlukan biaya Rp1,2 miliar akan diproduksi sampai master seluloid dalam teknik high digital. Filem yang diperankan bintang baru yang belum bersedia disebut namanya, didukung modalnya oleh Nusantara Cinema yang dirinya sendiri sebagai direkturnya, selain menunggu adanya bantuan tambahan dari lembaga yang menaruh kepedulian terhadap perempuan. Filem yang digagas sejak dua tahun lau tinggal eksekusi produksinya saja. Tim produksi sudah siap dibantu teman-temannya dari kampusnya. ”Saya ingin ingin jadikan filem itu sebagai cermin realitas sosial masyarakat Indonesia,” ucapnya.
Figur Shandy sendiri adalah pria kelahiran Rensing Lombok Timur, 27 Juli 1976, mengagumi sutradara Iran Majid Majdi yang bikin Children of Heaven (Anak-anak Sorga). Juga Zang Zhime (Cina) yang membuat Not One Lease dan Road Home yang bertema sosialis humanisme dunia ini bisa diselamatkan, bukan hanya kapitalisme.
Menyebut dirinya keturuan ”jajar karang”, sewaktu usia 2 tahun ditinggal mati bapaknya Nurji yang baru berusia 30 tahun. Kini tinggal ibunya Halimatussakdiah, 57 tahun yang masih hidup. Ia yang sewaktu kuliah membiayai dirinya sendiri karena semangat, sewaktu kecilnya berada di Panti Asuhan di desanya, Rensing, adalah pernah memilih kuliah, angkatan 1996 di ISI Yogya. Kemudian 1997 ke Jakarta.
Dari seorang perempuan pegawai negeri yang dinikahinya, 2004, Sri Wahyuni asal Jerowaru Lombok Timur, sudah memberikan dua anak Rinjani Syair Mareta Azahro Sasak Adi, usia 2 tahun 2 bulan dan yang kedua diberi nama Maharani Nine Sasak Mangku Jaga. 16 Juni 2008 lalu.(supriyantho khafid)




