MATARAM - Dinas Peternakan Nusa Tenggara (NTB) masih melakukan pemantauan terhadap dua lokasi pemeliharaan unggas di Kelurahan Pejarakan dan Gebang di kota Mataram. Ini dilakukan karena sebelumnya pernah didapati positif adanya Avian Influenza (AI) atau Flu Burung akibat virus H5N1. Namun, hingga Sabtu (21/6) kemarin, hasil pemeriksaan laboratorium belum diperoleh.
Kepala Seksi Pencegahan, Pemberantasa Penyakit Hewan Dinas Peternakan NTB drh.Wahyu Setiawan menjawab wartawan dalam pertemuan bulanan Pencegahan dan Penanggulangan Flu Burung yang dilakukan oleh Komisi Provinsi Flu Burung NTB di Mataram, yang difasilitasi United Nations Chlidrens Food, Sabtu (21/6) siang. ”Spesimen diambil setiap tiga bulan sekali,” katanya.
Sebelumnya, hasil pemeriksaan sampel yang dilakukan setelah vaksinasi mendapatkan kekebalannya mencapai 53,6 persen. Sebulan mendatangkan, kata Wahyu, diharapkan meningkat lagi kekebalannya. Kalau semula pemerintah telah menyiapkan satu juta dosis vaksin, tahun 2008 ini memberikan 62.500 dosis.
Untuk mencegah keberlanjutan ancaman H5N1 di dua lokasi tersebut, Wahyu Setiawan menjelaskan, masih dilakukan penyemprotan guna penguatan terhadap ternak terhadap ancaman flu burung.
Kepala Sub Dinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan NTB dr.Moch.Ismail meminta kepedulian masyarakat untuk berhati-hati terhadap kebersihan lingkungannya. ”Agar bisa mengendalikan kemungkinan yang terjadi, karena pandemi bisa merebak ke seluruh dunia,” ujarnya.
Ada 81 kasus AI yang penderitanya meninggal karena terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan. Di Indonesia, kasusnya tertinggi di dunia, 108 orang meninggal dari 133 kasus. Kondisi korban sudah cukup berat baru dibawa ke tempat pelayanan dini untuk penanggulangan penyakit potensial menular dan flu burung.
Di NTB, sudah ada empat lokasi rujukan pelayanan penderita flu burung mulai RSUD di Mataram, Selong, Sumbawa dan Raba-Bima.(supriyantho khafid)


