MATARAM - 575 orang dari 6.007 siswa SMA/Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se kota Mataram tidak lulus ujian nasional. Mereka terbanyak dari sekolah swasta. Rata-rata kelulusan siswa tahun ini mencapai 90,42 persen atau meningkat 2,5 persen dibanding hasil ujian tahun 2007 lalu yang lulus 87,11 persen dari 5.772 siswa peserta ujian.
Kepala Sub Dinas Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Nasional Kota Mataram Muhammad Aminullah Diradji menjelaskan kepada LombokNews, Sabtu (14/6) pagi. ”Peningkatan ini berkat bantuan tambahan bimbingan dari sekolah,” katanya.
Disebutnya, ada lima sekolah yang siswanya lulus 100 persen yaitu SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Janamarga (swasta), SMK Negeri 1, SMK Negeri 4. Sedangkan sekolah yang kelulusan siswanya rendah kurang dari separonya yaitu SMA Kertyawisata 49,22 persen dari 53 siswa, SMA AL Maarif 47,96 persen dari 75 siswa, MA Darul Aman 42,86 persen dari 21 siswa, MA Nahdlatul Wathan 48,93 persen dari 64 siswa, MA Hidayatulllah 23,08 persen dan SMK Bina Bangsa 42,86 persen dari 105 siswa.
Kepada mereka yang tidak lulus ujian karena nilainya dibawah rata-rata dibawah standar 5,2, menurut Aminullah, diberikan kesempatan mengikuti ujian Paket C yang setara SMA yang langsung didaftarkan oleh setiap sekolah mulai 16-18 Juni. Sedangkan ujian akan dilaksanakan 24-27 Juni 2008.
Pengumuman kelulusan ujian nasional SMA, MA, dan SMK di kota Mataram dilakukan melalui koran lokal. Diumumkannya kelulusan melalui koran ini, menimbulkan suasana ramai kota Mataram di pagi pagi. Sejak subuh, para pengecer koran sudah berada di setiap perempatan jalan menawarkannya. ”Supaya sekolah aman dan tertib. Anak-anak siswa lainnya juga diliburkan,” kata Aminullah. Meskipun demikian, victory lap para siswa yang mengenakan baju putih celana abu-abu sudah bercoret cat pilox merah melaju berombongan meraung-raungkan suara knalpotnya sambil membawa bendera kain warna putih.
Ada yang gembira dan ada pula yang bingung karena siswa tidak mendapatkan namanya di koran baik karena tidak lulus maupun yang tidak tercetak di koran. Misalnya siswa SMA Muhammadiyah Fadlia Fauzia yang sudah mendapatkan koran tapi tidak berani membukanya sendiri. ”Saya takut. Alhamdulillah kalau lulus,” ujarnya setelah seorang kawannya yang lebih dulu membukanya mendapati namanya sendiri dan Fadlia tercantum lulus.(supriyantho khafid)




