MATARAM - Pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat sangat rendah akibat kendala transportasi udara. Selama lima tahun terakhir, 2002-2007, hanya bertambah 100,000an orang. Kalau tahun 2002 wisatawan yang datang 247.000an orang maka tahun 2007 baru mencapai 447.000an orang. Padahal fasilitas 29 hotel bintang dan 226 hotel melati yang tersedia sudah mencapai 11.000 kamar.
Selama ini pintu utama kedatangan wisatawan yang datang dari Bali adalah bandara Selaparang. Tetapi pesawat yang melayani jalur Denpasar - Mataram kapasitas angkutnya di bawah 60 seat. Selaparang belum dapat melayani pesawat berbadan lebar yang dapat terbang langsung dari mancanegara yang bisa memuat 400an orang.
Karena itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTBÿGusti Putu Supartha mengatakan pertumbuhan angka kunjungan sangat tidak signifikan. ”Karena fasilitas yang tersedia sangat besar, seharusnya lebih banyak lagi,” katanya, Senin (19/5). Ia berharap, setelah selesainya bandara internasional Lombok di Dusun Slanglit Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah, hambatan transportasi langsung bisa diatasi.
Hasil evaluasi yang dilakukannya, mendapati wisatawan yang datang dari bandara Ngurah Rai Bali 38 persen, pelabuhan feri Padangbai Bali 24 persen, dan selebihnya dari Soekarno Hatta Jakarta dan Juanda Surabaya.
Untuk mengatasi kendala transportasi udara, Lombok Hotel Association bersama pelaku pariwisata lainnya mendorong dibukanya kembali pelayaran kapa cepat Bounty Cruises dari Benoa Bali ke Malimbu Lombok Barat yang dapat mengangkut 300an orang.
Wisatawan mancanegara (wisman) yang terbanyak datang ke NTB berasal dari Eropah (Jerman, Italia, Inggris) dan Australia. Mereka meminati berlibur di pulau wisata Gili Indah (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air) yang memiliki taman laut yang indah. Sedangkan wisatawan nusantara lebih banyak berada di kawasan pantai Senggigi yang menjadi idola. Lainnya pantai Kuta Lombok Tengah dan Taman Nasional Gunung Rinjani di Lombok Barat.
Untuk lebih mengenalkan obyek wisata NTB, Pemerintah Provinsi NTB memberikan dana operasional Rp5 miliar kepada Disbudpar NTB. Promosi dilakukan ke berbagai negara dan kota besar di Indonesia.
Pelayanan yang diberikan kepada wisatawan pun sudah dievaluasi. Untuk akomodasi 57 persen dinilai baik, 35 persen sedang, 8 persen kurang. Terhadap biro perjalanan 40 persen baik, 54 persen sedang, 6 persen kurang. Tranportasinya 47 persen baik, 46 persen sedang, 7 persen kurang. Rumah makan 51 persen baik, 42 persen sedang, 7 persen kurang. Keamanan dinilai 40 persen baik, 45 persen sedang, 15 persen kurang. Untuk keramahtamahan terhadap wisatawan, 75 persen baik, 23 persen sedang, dan 2 persen menyebuitnya kurang.(supriyantho khadfid)

