MATARAM - 7.400 benda tidak bergerak koleksi Museum Nusa Tenggara Barat terancam rusak akibat kurangnya pembiayaan pemeliharaan yang tersedia. Seharusnya, idealnya setiap tahun dilakukan pemeliharaan terhadap 1.000 benda koleksi utamanya yang terbuat dari kayu atau lontar, kain dan benda logam lainnya seperti perunggu atau keramik. Tetapi yang tersedia hanya untuk 500 benda. Ruang penyimpanan koleksi 10 jenis ragam budaya di sana pun kurang layak karena udaranya lembab akibat air hujan dan tanpa pendingin ruang sehingga benda koleksi seperti terpanggang.
Tidak hanya biaya pemeliharaan yang terbatas, tetapi kurangnya tersedia dana pengganti temuan benda cagar budaya yang berada di tangan masyarakat. Banyak temuan benda abad 18 yang diperoleh masyarakat yang hendak diberikan kepada Museum NTB namun belum bisa diambil alih. Dalam setahun dibutuhkan dana sebesar Rp50 juta tetapi alokasi dana yang diperolehnya hanya Rp10 juta. ”Ada temuan keramik berhuruf Kanji belum bisa kami ambil alih karena Terbatasnya anggaran,” kata Kepala Museum NTB Idrus, Senin (19/5).
Setiap tahun, ada 25.000 orang pengunjung yang datang untuk melihat koleksi Museum NTB. Selain pelajar dan mahasiswa, diantaranya sekitar 5 persen adalah wisatawan mancanegara yang berkunjung untuk melihat koleksi sebagai bahan kajian dalam penelitian antar museum negara lain. ”Mereka datang untuk melakukan perbandingan,” ujar Idrus.(supriyantho khafid)




