MATARAM - Pendemo Komisi Pemilihan Umum Daerah Nusa Tenggara Barat bentrok dengan polisi yang menghalaunya, Sabtu (17/5) siang. Tiga orang diantaranya Ketua Komnas Pilkada Independen NTB Sri Sudarjo dan Ketua Federasi Serikat Nelayan Tani Buruh Indonesia Taufik Budiman dianiaya polisi yang dikenalnya. Sedangkan 10 orang lainnya mengalami luka ringan.
Berlangsung di pintu timur kantor KPUD antara anggota Samapta Polres Mataram dengan 500an orang pendemo yang juga diikuti oleh Ketua Umum Calon Perseorangan Seluruh Indonesia Lalu Ranggalawe yang menuntut penundaan pemilihan kepala daerah (pilkada) NTB. Sejak sepekan lalu, Sabtu (10/5) setiap hari mereka mendemo KPUD NTB karena tidak mengikut sertakan pasangan calon perseorangan.
Bentrokan yang berlangsung sekitar 5 menit, tidak jelas penyebabnya, polisi merangsek para pendemo. Sri Sudarjo yang berada di barisan depan kena pukulan, diseret beberapa meter dan terinjak-injak. Akibatnya, seluruh bagian tubuhnya mulai dari kepala hingga tangan mengalami luka memar. ”Dia muntah ketika diangkut mobil ke RSD Mataram,” kata istrinya, Baiq Rahayu Ratnasari yang mendampinginya di Unit Gawat Darurat RSUD Mataram. Sri Sudarjo menjalani penanganan darurat akibat kondisinya yang terbilang parah, kena pukulan polisi yang menghadangnya.
Sedangkan Taufik Budiman, yang tidak tahu sebab musababnya karena berada jauh di lokasi tetapi menjadi korban pukulan oknum perwira Polres Mataram langsung menyampaikan pengaduan ke Unit Siaga Markas Polda NTB. Ia yang datang sebelum massanya sampai di tempat dari depan kantor Gubernur NTB, ditarik-tarik kancing bajunya hingga terlepas dan dipukuli kena muka pelipis kiri dan ujung bibir. Dadanya juga mengalami sakit. Bahkan sempat jatuh akibat dorongan. ”Saya heran. Saya minta Kapolres membawa anak buahnya itu. Kalau dia jantan meminta maaf, saya selesaikan perkara ini tidak berlanjut,” ujarnya. Di sana, ia juga meminta surat pengantar dilakukannya visum terhadap kondisi tubuhnya.
Kepala Polres Mataram Ajun Komisaris Besar Triyono BP kepada wartawan menjelaskan tindakan anak buahnya dilakukan karena ada yang memulai melakukan pemukulan. ”Pengunjuk rasa yang memulai. Polisi tidak mungkin memulainya,” ucapnya.
Selama sepekan terakhir ini, untuk menghadang pengunjuk rasa mendatangi KPUD NTB, polisi menyiagakan personil Samapta dan Brimob yang dilengkapi kendaraan taktis.(supriyantho khafid)

