MATARAM - 18.000 petani kacang tanah di kawasan timur Indonesia dilibatkan mengikuti program inovatif Pemerintah Australia. Di bawah SADI (Smallholder Agribusiness Development Initiative atau program pengembangan usaha pertanian bagi petani kecil) yang dibiayai Pemerintah Australia sebesar A $ 38 juta, bekerja sama dengan PT Garuda Food Putra Putri Jaya (Garuda Food) yang melalui PT Bumi Mekar Tani menyediakan benih kacang tanah, bantuan teknis dan jaminan pasar.
Selasa (13/5) pagi di Lembah Pedek Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Barat, Program Pengembangan Kacang Tanah tersebut diresmikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Serinata yang memanen kacang tanah di lokasi tersebut, bersama Kepala Lembaga Bantuan Internasional Australia di Indonesia Blair Exell, Manajer Program International Finance Corporation (IFC) dari kelompok Bank Dunia Bruce Wise dan Managing Director Garuda Food Hartono Atmadja.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Fathurrahman mengatakan SADI sebagai program hibah pemerintah Australia berjangka waktu 10 tahun. Fase pertama selama 3,5 tahun terdiri 3 komponen. Pertama, untuk pengembangan masyarakat desa dibiayai oleh Bank Dunia menggunakan pola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Kedua, pengembangan pasar dan rantai nilai dibiayai dan dilaksanakan oleh IFC yang konsentrasinya penguatan usaha kecil menengah bidang agribisnis. Ketiga, pengembangan nilai adatif dilaksanakan oleh ACIAR (Australian Center for Internasional Agricultural Research. ”Sudah ada kerja sama petani kacang dengan Garuda Food,” ucapnya.
Gubernur NTB Lalu Serinata mengatakan produksi kacang tanah masih didominasi petani kecil yang luas kepemilikan lahan tanamnya berkisar antara 0,4 ? 0,5 hektar yang tingkat produktivitasnya hanya sebesar 1,2 ton per hektar sehingga rata-rata produksi kacang tanah pertahun NTB baru mencapai 45.000 ton atau sama dengan 6 persen dari total produksi naisonal dengan luas areal penanaman mencapai 35.000 hektar. ”Tingkat produktivitas pengembangan kacang tanah di NTB masih sangat kecil,” katanya.
Program Kemitraan Australia Indonesia di bidang kacang tanah tersebut yang juga dilakukan di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara itu, ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan dan pendapatan petani di NTB. Skema inti plasma bisa meningkatkan pendapatan petani dengan menurunkan biaya operasional dan meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi mereka.
Kacang tanah adalah produk pertanian yang penting di Indonesia. Konsumsi nasional pertahunnya melebihi 700.000 ton atau 3,20 kilogran per kapita pada tahun 2002. Pasar makanan kecil di Indonesia mencapai nilai US $ 450 juta pada tahun 2002 dan 35 persen dari makanan kecil tersebut terbuat dari kacang tanah dan kacang-kacangan. Nilai pasar makanan kecil Indonesia diperkirakan mencapai US $ 723 juta pada tahun 2007 sebesar US $ 253 juta terbuat dari kacang tanah dan kacang-kacangan.
Hartono Atmadja mengatakan sejak 7 tahun terakhir ini Garuda Food mengembangkan industri kacang. ”Saat ini Indonesia masih mengimpor. Pengembangan ini sebagai tantangan industri,” ujarnya. Melalui PT Bumi Mekar, telah dilakukan kemitraan selama 5 tahun terakhir ini.
Di NTB, Garuda Food sudah memiliki pabrik pengolahan setengah jadi. Dari kebutuhan 30 ton sehari, tetapi baru bisa separuhnya atau 15 ton yang bisa dipenuhi lokal. Secara nasional, menurut General Manager PT Bumi Mekar Tani - anak perusahaan Garuda Food - Budiono, perusahaannya memerlukan suplai hingga 60.000 ton setahunnya. Namun sebagian diperoleh dari kacang tanah impor.
Adapun IFC sebagai mitra program SADI, yang pada tahun 2007 memberikan US $ 8,2 miliar dan melakukan penambahan US $ 3,9 miliar melalui sindikasi dan keuangan terstruktur untuk 299 investasi di 69 negara berkembang. IFC juga memberikan layanan konsultasi di 97 negara.(supriyantho khafid)





