MATARAM - Para pegiat lembaga swadaya masyarakat menyatakan kekecewaannya terhadap adanya kebijakan untuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebab, dipastikan kenaikannya akan memicu kenaikan harga barang dan jasa yang memberatkan rakyat kecil. Sebab, sampai saat ini Pemerintah Indonesia belum mampu membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan.
Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) menyatakan kekecewaannya terhadap kebijakan kenaikan harga BBM tersebut melalui pernyataan sikapnya, Selasa (6/5) siang. ”Kami menolak kebijakan pemerintah tersebut,” ujar Kordinator Divisi Aksi dan Advokasi Rakyat LARD Andi Mardan.
Semestinya, pemerintah melakukan penekanan terhadap pos anggaran belanja negara dan pejabat negara yang selama ini dinilai terlalu boros. Sebaiknya subsidi BBM kembali diberlakukan dan menetapkan arah pembangunan ekonomi yang pasti agar penguatan terwujud penguatan ekonomi. Sehingga mampu mengikuti kemauan harga pasar itnernasional. Bila perlu melakukan nasionalisasi perusahaan tambang minyak dan merestrukturisasi Pertamina.
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusul Kalla dimintanya untuk melakukan mengurangi beban rakyat, penyitaan terhadap aset koruptor dan menasionalisasi beban rakyat atau mundur dari jabatannya, jika memang tidak mampu menjalankan pemerintahan untuk mewujudkan kesra yang meluas..
Pengemudi taksi Lombok berkode Z 2093 Akliludin memastikan kenaikan harga BBM akan mempengaruhi tarif, baik mulai argo start maupun kilometernya. Ini diyakini akan membuat masyarakat kaget sehingga mengurangi bepergian menggunakan jasa taksinya. ”Naiknya Rp5 ribu -10 ribu bisa membuat kaget masyarakat pengguna taksi,” katanya. Untuk sehari di dalam kota, biasanya ia menghasilkan Rp250 ribu. Perjalanannya menghabiskan BBM seharga Rp50 ribu. Selebihnya 60 persen disetor ke perusahaan dan membawa pulang Rp50 ribu.
Kordinator Kelompok III pengemudi Taksi Lombok Hasan Basri juga menyebutkan kenaikan ini awalnya pasti berpengaruh. Padahal, pada saat ini, untuk ukuran Mataram, sedang bagus-bagusnya konsumen pengguna taksinya. Sehari, menurutnya, yang memesan melalui telpon mencapai 2.700 panggilan. Sekarang ini, Taksi Lombok yang memiliki 237 unit taksi yang diawaki 370 orang pengemudi, argo startnya dimulai Rp3.850. Per satu drop meternya Rp220 atau tarif per kilometernya atau 10 drop adalah Rp2.200.
Dikatakan oleh Hasan Basri, untuk menekan penggunaan BBM agar menjadi hemat, perusahaannya sudah memperbanyak pos pangkalan taksinya yang jumlahnya lebih dari 20 lokasi menyebar di wilayah pemukiman, perkantoran dan kawasan wisata se Mataram dan Lombok. ”Ini merupakan upaya penghematan BBM,” katanya.(supriyantho khafid)


