MATARAM - Raja Bima terakhir alamarhum Sultan Muhammad Salahuddin diusulkan sebagai pahlawan nasional. Ia yang diriwayatkan memerintah 1915-1951 itu merupakan Sultan Bima ke-14 bergelar Sultan Haawo ro Ninu Ruma Sangaji. Rintisan usulannya sebagai pahlawan nasional dimulai melalui seminar nasional yang berlangsung di Mataram, Sabtu (3/5) pagi.
Merupakan putra pertama dari Raja Bima ke-13 Sultan Ibrahim dengan istri kedua permaisuri Siti Fatimah, dilahirkan tahun 14 Juli 1888 dan meninggal dunia pada usia 63 tahun di Jakarta 11 Juli 1951. Jenazahnya disemayamkan di Gedung Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Oleh perintah Presiden Soekarno, pemakaman Sultan Muhammad Salahuddin ini dilakukan upacara kenegaraan dihadiri seluruh menteri dan pejabat negara dan tokoh agama seperti KH Agus Salim, Muhammad Nasir, Mohammad Roem, Mr.Syafruddin Prawiranegara.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya mengantarkan rakyat Bima menuju kemerdekaan, pada tanggal 14 April 1983 diresmikanlah lapangan terbang Bima yang diberi nama Bandara Sultan Muhammad Salahuddin dalam suatu upacara resmi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Sutoyo.
Menurut Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat Prof.Dr.Nina Herlina Lubis MS yang hadir dalam seminar, Sabtu (3/5) di Mataram seperti di dalam bukunya Kajian Tentang Perjuangan Sultan Bima Muhammad Salahuddin, almarhum mendukung dibentuknya Komite Aksi Penangkapan Belanda bulan Maret 1942 dan kemudian melakukan perlawanan terhadap serangan serdadu KNIL Belanda dari Sumbawa.
Nina Herlina yang dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung mengatakan dirinya yang menjadi anggota Badan Pembina Pahlawan Daerah Jawa Barat sudah berhasil mengusulkan lima pahlawan nasional Jawa Barat sehingga jumlah keseluruhan 11 orang. ”Sekarang ini tidak ada satupun dari Nusa Tenggara Barat. Ini yang mendorong saya,” kata Nina yang telah melakukan observasi mendatangi Bima, lima bulan lalu.
Menurut Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Serinata, Sultan Muhammad Salahuddin adalah tokoh sejarah yang memiliki nama besar. ”Cukup bukti catatan sejarah. Sudah jauh memenuhi syarat,” dalam sambutan tertulis yang diwakili oleh Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Sekretariat Daerah NTB Ma’sum.(supriyantho khafid)


