MATARAM - Selama 2007, Badan Pembina Pahlawan (BPP) Pusat yang diketua Menteri Sosial Bachtiar Chamsah masih memproses usulan 24 orang pejuang sebagai pahlawan nasional. Oleh Sekretaris Negara baru empat orang yang disetujui melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia. Usulan dari daerah harus diajukan oleh BPP Daerah (BPPD) dilengkapi persyaratan yang ditetapkan. Saat ini sudah terdaftar 141 orang pahlawan nasional Indonesia.
Setiap usulan yang diajukan oleh BPPD melalui BPP diseleksi persyaratan administrasinya. Tahun 2007 lalu dari 24 calon yang diajukan hanya 7 calon yang bisa diloloskan ke Dewan Kehormatan Pemberian Tanda Gelar.Kendala yang ada biasanya tidak dapat memenuhi persyaratan yang harus disiapkan.
Untuk pengajuan calon pahlawan nasional tersebut meliputi kriteria warga negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya memimpin dan melakukan perjuangaqn bersenjata atau politik atau bidang lain, melahirkan gagasan atau pemikiran besar, karya besar yang mendatangkan manfaat harkat dan martabat bangsa. Lainnya, harus memenuhi persyaratan usulan dan telah diabadikan namanya, meneuhi prosedur.
Kepala Sub Direktorat Nilai Kepahlawanan Keperintisan dan Tanda Jasa Departemen Sosial M Nur Soleh mengemukakannya di sela Seminar Nasional Pengusulan Sultan Bima almarhum Muhammad Salahuddin di Mataram, Sabtu (3/5). ”Seleksinya di pusat sangat independen. Tidak bisa diintervensi. Lepas dari masalah politik,” ujarnya.
Dari daerah, usulan diajukan melalui BPPD yang diketuai Gubernur. Ternyata setelah diterapkannya otonomi daerah, dari 33 provinsi se Indonesia baru ada enam provinsi yang telah membentuk BPPD. Karenanya, perjuangan mengusulkan Sultan Bima almarhum Muhammad Salahuddin masih cukup panjang. ”Jangan berpikir cukup sekali seminarnya,” katanya.
Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Ma?sum mewakili Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata mendukung pengajuan Sultan Bima tersebut sebagai pahlawan nasional. ” Almarhum memiliki nama besar yang memenuhi syarat. Cukup bukti catatan sejarah,” ucapnya sebelum membuka seminar tersebut.
Hadir ikut berbicara Ketua BPPD Jawa Barat Prof.Dr.Nina Herlina Lubis MS yang mengkaji perjuangan Muhammad Salahuddin, dan seorang ahli sejarah Prof.Dr.Taufik Abdullah yang berbicara tentang Pahlawan, Masyarakat dan Sejarah.(supriyantho khafid)


