MATARAM - Pembebasan biaya pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai tidak adil oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata. Karena itu ia menyatakan tidak setuju pembebasan biaya pendidikan. Sebab pembebasan tersebut tidak memberikan rasa keadilan kepada warga yang tidak mampu. Sebaiknya, perlu dilakukan subsidi silang memberikan bantuan biaya pendidikan kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Pendapat Serinata tersebut menjawab wartawan, menjelang Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2008. ”Yang adil adalah membantu yang tidak mampu,” katanya, Rabu (30/4). Menurutnya, menanggung biaya pendidikan tidak merupakan masalah yang berat. Sebab menanggung pendidikan itu adalah merupakan kewajiban orang tua.
Seperti dicontohkan dirinya yang merupakan salah satu dari 20 orang anak dan keluarga yang ditanggung orang tuanya. Karena ia dinilai mampu sekolah hingga perguruan tinggi, maka orang tuanya yang petani melepaskan setengah penghasilannya dari bertani untuk biaya pendidikannya sewaktu kuliah di Universitas Gajah Mada pada tahun 1958. ”Karena saya dianggap bisa sekolah dibiayai. Yang lain tidak,” ujarnya.
Dari data tahun ajaran 2007/2007 dketahui bahwa di NTB, masih 97,59 persen atau belum seluruhnya anak sekolah SD,Madrasah Ibtidaiyah dan paket A. Demikian pula di tingkat sekolah SMP, Madrasah Tsanawiyah dan Paket B baru 77,73 persen dan tingkat sekolah SMA, SMK, Madrasah Aliyah, Paket C semakin rendah hanya 52,18 persen.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga NTB Wildan menyebutkan rata-rata lama sekolah penduduk NTB hanya 6,7 tahun atau hanya sekolah sampai kelas satu setingkat SMP. Dari sembilan kota dan kabupaten se NTB, hanya kota Mataram yang lama sekolahnya 8,4 tahun atau dan kota Bima 8,8 tahun atau sampai kelas tiga setingkat SMP. Karenanya tidak mengherankan kalau indeks pembangunan manusia (IPM) di NTB masih rendah di urutan belakang dari seluruh provinsi di Indonesia. Ia mendorong jangan sampai hanya SMP. Sebab memerlukan keterampilan yang tinggi. ”Sekolah saja sulit hidup apalagi tidak sekolah,” ujarnya.(supriyantho khafid)


