MATARAM - Jumlah gabah yang tercecer sewaktu panenan oleh petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 138.000 ton. Banyaknya gabah yang hilang dan rusak tersebut sembilan persen dari 1,5 juta gabah kering giling (GKG) besarnya produksi gabah asal NTB. Tercecernya gabah tersebut akibat kekeliruan penggunaan sabit pemanen padi. Karenanya, Dinas Pertanian NTB membagikan 5.750 sabit bergerigi dan 2.400 lembar terpal plastik kepada petani.
Pemberian sabit bergerigi tersebut guna membantu petani bisa lebih cepat memotong padinya. Sehingga paling tidak, hanya sedikit yang berjatuhan ke lantai terpal yang digunakan untuk menadahnya. Pemberian sabit bergerigi dan terpal tersebut sebagai upaya Pemerintah Provinsi NTB mengurangi banyaknya produksi padi yang rusak dan hilang sewaktu dipanen.
Secara bertahap seluruh petani diberikan bantuan sabit dan terpal. ”Agar angka kerusakan dan hilangnya gabah bisa menyusut tinggal satu persen saja,” kata Kepala Dinas Pertanian NTB Mashur, Rabu (23/4) siang di kantor Gubernur NTB.
NTB adalah salah satu lumbung pangan nasional yang kelebihan berasnya dikirim ke Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Jawa Timur. Perhitungan surplus pangan di NTB, 328.554 ton beras setelah digunakan untuk kebutuhan pangan penduduk NTB sendiri sebanyak 550.000 ton. ”Bulan depan panen puncaknya,” ucapnya.
Pada musim hujan 2007/2008 ini, luas lahan sawah yang ditanami padi mencapai 290.228 hektar. Yang sudah dipanen baru pada bulan Pebruari 2008 lalu hanya sebanyak 15.262 hektar dan yang dipanen Maret 2007 sebanyak 67.237 hektar. April ini panenan terakhir tanaman musim hujan. Karenanya diperlukan harga pedoman penjualan (HPP) lebih dari Rp2.200 per kilo agar dapat menguntungkan petani. ”Mudah-mudahan HPP sudah membaik,” ujarnya.(supriyantho khafid)

