MATARAM - Survey tahunan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Nusa Tenggara Barat (Bapedalda NTB) menghasilkan temuan 60 persen sumur di Mataram tercemar bakteri Eschercia coli (E-coli). Penyebab pencemaran E-coli pada sumur warga tersebut kebanyakan karena letak sumur berdekatan dengan septic tank atau kolam penampung tinja dari jamban. Padahal idealnya jarak itu paling dekat 10 meter, untuk mencegah rembesan septic tank masuk ke sumur.
Hasil survei yang dilakukan menggunakan sample air sumur di pemukiman warga di Mataram disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Bapedalda NTB Eko Bambang Sutejo. Menurutnya, pihak Bapedalda sudah merekomendasikan pada pengembang perumahan untuk memperhatikan jarak sumur dengan penempatan septic tank. Pebruari 2008 lalu Gubernur NTB juga sudah bersurat ke pihak Real Estat Indonesia (REI) NTB untuk masalah tersebut.
Bambang menjelaskan, Gubernur NTB meminta pihak anggota REI NTB agar membuat satu septic tank untuk beberapa rumah, dan tidak seperti saat ini satu septic tank untuk satu rumah. ”Untuk memastikan jarak sumur dan septic tank benar-benar terjaga,” ujarnya.
E coli merupakan indikator dalam penentuan tercemarnya air oleh limbah domestik, seperti limbah rumah tangga dan lain-lain. Bakteri E Coli biasanya ke luar menuju alam bebas bersama tinja. Bakteri E-Coli dapat menimbulkan gangguan kesehatan jika masuk ke saluran pencernaan, baik melalui minuman maupun makanan. Gangguan kesehatan tersebut, bisa berupa tifus, kolera, hepatitis, diare, dan lain-lain.
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Klas II Mataram Muhammad Mardi mengatakan, perubahan iklim global yang mempengaruhi iklim regional di NTB juga berpeluang meningkatkan pertumbuhan bakteri pembawa penyakit seperti E-coli. Kasus wabah diare ÿdi Bima bisa menjadi contoh. Cuaca yang tidak menentu, tinggi curah hujan yang kemudian merembes ke sumur. ”Apalagi di sana kebanyakan minum air tanpa dimasak lebih dulu,” ucapnya.(supriyantho khafid)


