Provinsi Kepulauan Riau semakin sibuk membangun daerahnya. Setelah dikenal Otorita Batam untuk menghidupkan kawasan industri, kini sedang menunggu keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibentuknya Free Trade Zone (kawasan perdagangan bebas) Bintan Batam Karimun (BBK). Selama dua hari, Rabu - Kamis (2-3/4), saya memperoleh kesempatan mengikuti perjalanan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah di Tanjung Pinang, Batam dan Tanjung Balai Karimun.
Awalnya, adalah peresmian perubahan nama Bandara Kijang di Tanjung Pinang menjadi Bandara Raja Haji Fisabilillah, Rabu (2/4) pagi. Tanjung Pinang adalah ibukota provinsi Kepri. Bandara ini adalah salah satu dari lima bandara di Kepri yang telah ditingkatkan panjang dan lebar landas pacunya serta perluasan terminalnya. Sekarang ini seperti dikatakan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura II Edi Haryoto, pendapatan bandara yang dikelolanya tersebut baru sebesar Rp4,5 miliar setahun atau sama seperti pendapatan Soekarno Hatta seharinya.
Walikota Tanjung Pinang Suryatati Amada dalam laporannya mengemukakan, ada tiga bukit yang harus dipapras agar tidak menjadi kendala penerbangan. Panjang landas pacunya yang semula 1.850 meter ditambah menjadi 2.100 meter dari semula untuk pesawat CN 230 bisa didarati B 737 - 200. Luas terminal pun berubah dari 1.250 meter menjadi 1.400 meter sehingga kini memiliki sembilan konter check in. Sudah ada tiga maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines yang melayani rute Jakarta - Tanjung Pinang, Riau Airlines yang mengisi jalur Tanjung Pinang - Pekan Baru dan ke Natuna serta Sriwijaya Air ke Jakarta.
Diharapkan Bintan semakin dikenal sehingga wisatawan bisa langsung datang melalui Tanjung Pinang tidak harus melalui Hang Nadim di Batam, satu jam penyeberangan menggunakan kapal feri. Menteri Perhubungan Jusman Syafii Jamal menyebutnya bisa menjadi pusat pertumbuhan.
Menurut Ismeth Abdullah, bandara di daerahnya masih perlu ditingkatkan selain Hang Nadim di Batam yang landas pacunya telah mencapai 4.000 meter, Natuna 2.500 meter, Raja Haji Fisabilillah 2.010, Dago Lingga 1.400 meter dan Karimun 800 meter. ”Saat ini masih banyak wisatawan yang datang dari Singapura menggunakan feri,” ujarnya ketika berbicara pada peresmian perluasan bandara Hang Nadim, Rabu (2/4) sore. Singapura diakuinya memiliki daya tarik yang besar. Padahal, Hang Nadim ini semula dijanjikan oleh Garuda akan dijadikan bandara transit pesawatnya tujuan Eropah.
Menggambarkan perkembangan daerahnya, sekarang ini, katanya, pertumbuhan ekonomi daerahnya mencapai delapan persen dan product domestic regional brutto (PDRB) Rp45 triliun dan pendapatan perkapita penduduknya US $ 3.300. Adapun investasi asing sudah mencapai US $ 8 miliar yang melibatkan 300 ribu tenaga kerja. ”Batam menjadi ikon pertumbuhan,” ucapnya.
Sejak 2006 lalu, gagasan kawasan ekonomi khusus muncul yang menggabungkan Bintan, Batam dan Karimun (BBK) sebagai Free Trade Zone. Dan Kamis (3/4) pagi, di Karimun, PT Saipem Indonesia mulai resmi investasinya, membangun usaha industri galangan yang menghasilkan anjungan lepas pantai yang menurut General Manager urusan bisnis offshre Saipem International Yves Inbona, target produksinya hingga 30.000 ton setahun.
Sebelumnya Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdukllah mengatakan ketika Karimun tidak dicantumkan sebagai kawasan FTZ. Karimun yang bakal memiliki peluang kerja hingga 10.000 orang itu yang memacu Ismeth ngotot menyertakan Karimun dalam FTZ. ”Saya tidak mau mundur sewaktu hanya Bintan dan Batam,” katanya.
Bupati Karimun Nurdin Basirun juga mengemukakan bahwa rencananya akan ada hambatan penguasaan lahan oleh calon investor. Perusahaan yang telah lebih 20 tahun sewaktu pemerintahan Soeharto ketika dicanangkannya segitiga Singapura-Johor-Riau ternyata menguasai 2000 hektar namun hingga kini tidak memulai investasinya. ”Timbul rombongan calo tanah Indonesia. Ini yang harus segera diselesaikan,” ucapnya.
PT Saipem Indonesia dari Saipem International Italia mulai membangun proyek usahanya senilai US 370 juta di Tanjung Pengaru Desa Pangke Kecamatan Meral Kabupaten Karimun. Ini adalah proyek industri pertama di pulau Karimun yang masuk menjadi kawasan perdagangan bebas Bintan, Batam, Karimun.(supriyantho khafid)


