TANJUNG BALAI KARIMUN - PT Saipem Indonesia dari Saipem International Italia mulai membangun proyek usahanya senilai US 370 juta di Tanjung Pengaru Desa Pangke Kecamatan Meral Kabupaten Karimun, Kamis (3/4). Ini adalah proyek industri pertama di pulau Karimun yang masuk menjadi kawasan perdagangan bebas (FTZ) Bintan, Batam, Karimun (BBK) yang pembentukannya menunggu surat keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Produksinya akan dimulai Januari 2010, General Manager urusan bisnis offshre Saipem International Yves Inbona mengatakan mampu menghasilkan peralatan anjungan lepas pantai hingga 30.000 ton setahunnya. ”Ini untuk kebutuhan pasar Jepang, Cina dan Korea Selatan,” ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang potensial lautnya.Industri galangan kapal dan anjungan lepas pantai, perlu dikembangkan. Sebab potensi pasar cukup besar. Tahun 2010 kebutuhan Indonesia untuk bangun kapal Rp34 triliun, Sedangkan untuk pengembangan anjungan lepas pantai US $ 7-8 miliar. Kebutuhan dana tersebut diakibatkan ketentuan International Maritim Organization yang menetapkan tanker harus berlambung ganda sehingga perlu banyak kapal. Di sisi lain harga minyak semakin tinggi memungkinkan pengembagan kapal dan migas offshore.
Di Indonesia, produksi total setahun galangan kapal di Indonesia mencapai Rp10 triliun, Pertumbuhan maritim 10 persen. Ada 200 perusahaan galangan kapal tetapi separonya yang aktif. Diantaranya yang aktif itu separonya modal asing.
Sebelumnya Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdukllah mengatakan ketika Karimun tidak dicantumkan sebagai kawasan FTZ, yang memacu Ismeth ngotot menyertakan Karimun dalam FTZ. ”Saya tidak mau mundur sewaktu hanya Bintan dan Batam,” katanya.(supriyantho khafid)


