MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mendukung pengembangan teknologi energi terbarukan pengelolaan biji jarak menjadi pasta pengganti minyak kompor. Di Kabupaten Lombok Timur dibuka lahan tanaman Jarak yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dengan pola pagar Jarak. Selain itu, juga dilakukan penelitian lebih lanjut produksi ampasnya agar bisa dimanfaatkan.
Untuk pengembangan pasta yang ditemukan teknologinya oleh peneliti asal Mataram Alfy Cholidyanto, didanai Kementerian Negara Riset dan Teknologi sebesar Rp200 juta ditambah pembiayaan pendampingan dari Pemprov NTB sebesar Rp50 juta. Bahkan memperoleh tawaran bantuan pembiayaan yang berasal dari Jerman.
Kepala Bidang Penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Supran mengemukakan bahwa dukungan pengembangan minyak Jarak tersebut sebagai pasta untuk kompor itu karena dinilai hemat energi. ”Ini merupakan bagian dari pengembangan kaspasitas daerah,” ujar Supran ditemui di sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi NTB, Senin (31/3). Yang lainnya adalah rumput laut, gaharu dan pertanian. Temuan pasta Jarak tersebut juga telah diusulkan Pemprov NTB agar bisa memperoleh hak paten dan sedang dalam tahap pengenalan.
Untuk pilihan pengganti minyak tanah, biji jarak dan buah Nyamplung yang diolah menjadi pasta menggunakan kompor khusus Jipi Subayu bisa digunakan untuk memasak. Dari sekilo biji jarak yang harga pasarannya hanya Rp600 perkilo, bisa digunakan untuk memasak hingga enam jam.
Sebelumnya, Alfy menjelasakan bahwa Lemelson Foundation dari Amerika Serikat dan RAMP (Recognition and Mentoring Program) Indonesia membantu mengembangkan teknologi pasta dan kompornya. Menurutnya, mengutip orang-orang asing yang menemuinya, ini temuan pertama di dunia. Alfy hanya kuliah sampai delapan semester di jurusan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram.
Pasta biji jarak ini mudah dinyalakan menggunakan korek api dan seperti kompor gas menyala langsung dan warnanya biru. Tabung pasta kompornya mampu menampung dua kilogram pastayang bisa nonstop menyala selama enam jam. Kompor ini tanpa menggunakan sumbu.
Supran juga menyebutkan bahwa Bappeda NTB juga membina peneliti lain yang menghasilkan temuan alat tetas telur ayam dan itik menggunakan kardus biaya murah dibanding alat tetes yang tersedia di pasaran. ”Mudah ditiru pembuatannya oleh peternak. Suhu lebih stabil,” katanya penemunya dosen Fakultas Peternakan Universitas Mataram Tapaul Rozi. Alat ini 10 kali lebih murah pembiayaannya seharga Rp25 ribu. Telah dilakukan uji coba yang tingkat keberhasilannya oleh petani mencapai 90 persen yang bila dibanding alat lain sekitar 80 persen.
Lainnya, Ida Bagus Alit menghasilkan bahan bakar minyak dari limbah plastik yang diperlakukan penyulingan (destilasi) sederhana. ??Plastik yang dicacah dimasukkan alat yang dipanaskan kemudian didinginkan,?? kata Alit. Satu kilo plastik menghasilkan 1,1 liter cairan minyak yang mendekati bensin bila dibakar menyala.(supriyantho khafid)


