MATARAM - Produksi industri kerajinan gerabah, ukiran cukli, anyaman Ketak, dan tenunan Lombok kurang bisa bersaing untuk memenuhi pesanan dari luar negeri. Meskipun sudah diberikan pelatihan untuk pengembangan disain, para pengrajin masih memilih disain lama yang sudah turun temurun dikuasainya. Akibatnya, peluang bisnis gagal diperoleh pengusaha eskportir produsen handicraft Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Asosiasi Eksportir Produsen Handicraft Indonesa (ASEPHI) NTB Baiq Dyah Ratna Ganefi mengemukakannya, Rabu (19/3). ”Produksi di sini kalah dengan Thailand. Harga dan kwalitasnya bagus,” ujarnya. Walaupun sudah memperoleh pelatihan pengembangan disain produksinya, kembali ke disain lama. Padahal, setiap waktu kegiatan diperlukan produk baru yang dapat menarik minat calon pembelinya.
Bukan hanya kalah dengan Thailand, disebutnya juga kalah dari Tenganan Bali pun mampu memenuhi pesanan berdasarkan contoh yang diinginkan. Model apapun yang diminta bila disertai contoh, mampu dipenuhi. Menurutnya, walaupun ekspor kerajinan sudah cukup besar, namun produksi kerajinan dari Lombok tidak dapat memenuhi pesanan sesuai bentuk yang diinginkan.
Sejak berkembangnya pariwisata di NTB, 1987, industri kerajinan sebenarnya pun meningkat diantaranya gerabah yang selama dihasilkan oleh tiga sentra : Banyumulek di Lombok Barat, di Penujak Lombok Tengah, dan Masbagik di Lombok Timur. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Januari - September 2007, ekspor gerabah yang langsung dikirim atas nama pengusaha lokal volumenya 29,74 ton senilai US $ 44.506,53. Secara keseluruhan ekspor industri kerajinan meliputi 28 item, mencapai 112,77 ton senilai US $ 131.639,18.
Sedangkan secara keseluruhan ekspor industri kerajinan pada tahun 2006, volumenya 424,49 ton senilai US 841.489,6 dan selama sembilan bulan pertama, Januari- September 2007 termasuk mutiara mencapai 208,388 ton senilai US $ 1.075.775,68.(supriyantho khafid)

