MATARAM - Bali sudah dirasakan mengalami kepadatan kota dan lingkungan obyek wisatanya. Akibat kepadatannya, telah menimbulkan kemacetan di berbagai wilayah. Sedangkan obyek wisatanya, wisatawan pun yang sudah berulangkali mendatangi Bali telah mengalami kejenuhan. Karenanya, pelaku pariwisata harus mencari pilihan baru destinasi yang bisa ditawarkan kepada wisatawan.
Ketua Kamar Dagang Industri Bali Gede Wiratha mengemukakannya sewaktu bertemu pelaku industri pariwisata di Senggigi Lombok, Jum?at (7/3) kemarin. Menurutnya, di Bali memang memiliki kelengkapan obyek wisatanya. Ada kebun binatang, rafting, Taman Burung, atau paket wisata petualangan berupa permainan militer atau wisata bahari hingga ke Nusa Lembongan. Namun disebutnya kemudian, kepadatan lalu lintas membuat macet perjalanan wisatawan. Setahunnya, wisatawan yang datang ke Bali mencapai dua juta orang.
Seperti di area Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata bahari yang memiliki atraksi parasailing atau sky didatangi 7.000 orang. Contoh lainnya, adalah kemacetan yang terjadi menjelang Nyepi, Kamis (6/3) malam. Wiratha pun mengeluhkan Bali yang semakin macet jika pejabat negara mulai dari presiden hingga menteri berdatangan untuk menghadiri acara-acara internasional atau partai politik yang juga ikut-ikutan beracara di Bali. ”Protokoler menyebabkan semuanya menambah macetnya Bali. Bandara ditutup atau lalu lintas yang dialihkan, menambah kesulitan,” katanya.
Dikatakan Wiratha yang juga pernah menjabat ketua Asosiasi Perjalanan Wisata dan juga Perhimpunan Hotel dan Restoran di Bali tersebut, bahwa di Tanjung Benoa Bali ada 900 unit kapal wisata dan lainnya yang tidak beroperasi akibat kejenuhan tersebut dan 200 unit diantaranya akan dilelang.
Oleh karena Bali sebagai destinasi utama sudah mengalami kejenuhan, harus ada pilihan lain untuk didatangi. Maka pilihannya adalah kembali melirik Lombok yang telah pernah didatangi dan kemudian ditinggalkan oleh kapal wisatanya Bounty Cruises tujuh tahun lalu.
Kapal cepat yang mampu mengangkut 626 orang penumpang tersebut mulai Kamis (6/3) tiba di pantai Senggigi Lombok. Jum’at (7/3) siang melakukan perjalanan ke kawasan wisata Gili Rengit Sekotong di bagian selatan Lombok Barat.
Dijadwalkan seminggu empat kali Bounty menghubungkan Benoa Bali ke lokasi yang diminati wisatawan mancanegara. Ini adalah destinasi baru yang ditawarkan setelah sebelumnya tiga kali seminggu Bounty menyediakan paket Benoa - Nusa Lembongan. ”Destinasi ini dipilih yang sudah jenuh di Bali,” kata Gede Wiratha selaku Presiden Direktur PT Gede Kadek Brother Layar Antar Nusa - pemilik Bounty Cruises.
Menurutnya, target wisatawan yang hendak dijangkau setiap hari pelayaran ke Gili Rengit minimal 200 orang. Sebagai rintisan, pemerintah daerah diminta ikut menyubsidi 50 orang pada pelayaran satu kali jalan pulang dari Lombok ke Bali saja selama enam bulan. ”Yang penting komitmen pemerintah walau dibayar belakangan,” ucapnya.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Muhammad Nur, selama enam bulan pertama yang dijadikan target promosinya itu, dibutuhkan bantuan subsidinya sekitar Rp4,2 miliar. ”Selama enam bulan itu bisa mendatangkan 19.200 orang ke Lombok,” ujarnya.
Gili Rengit menjadi destinasi baru wisata bahari yang dilengkapi jetski, diving, snorkling. Sebanyak 100 orang wisatawan mulai berlibur ke sana, selama sehari, Jum’at (7/3). Mereka menghindari Nyepi yang gelap di Bali. Harga paketnya dari Bali termasuk menginap di Senggigi, menurut Michael Tuddenham, 45 tahun, asal Melbourne Australia yang berlibur bersma istrinya, Angie, dibayarnya US $ 400. ”Ya liburan yang bagus. Indah,” ujarnya setelah main jetski, snorkling dan semua fasilitas rekreasi laut lainnya yang disediakan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Muhammad Nur mengakui destinasi wisata di Gili Rengit itu atraktif di lingkungan alam yang indah. ”Tentu pemda mendukungnya,” katanya di lokasi.
Pulau Gili Rengit di Dusun Pegametan Sekotong Lombok Barat seluas 22 hektar yang sempat diributkan penjualannya itu, sudah dimiliki Gede Wiratha,51 tahun - yang pernah hidup dan dibesarkan orang tuanya di Mataram. Dikatakan, sudah diperoleh izin pembangunan vila hotel berkamar 220 unit dan 40 unit akan berada di atas air. Dilengkapi lapangan golf mini 9 hole.(supriyantho khafid)


