MATARAM - Angka inflasi kota Mataram sebesar 1,09 tersebut cukup tinggi. Dihitung selama dua bulan pertama 2008 ini, laju inflasi di kota Mataram sudah mencapai 2,81 persen. Padahal target inflasi nasional selama setahun ini hanya 6,5 persen. Andil yang terbesar inflasi sebulan terakhir adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,73 persen. Dan komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan inflasi adalah cabe rawit sebesar 0,4676 persen.
Harga cabe rawit di Lombok semakin mahal di empat pasar besar Mandalika, Cakranegara, Pagesangan, Ampenan di kota Mataram. Saat ini harga perkilonya mencapai Rp22 ribu. Sebulan terakhir, harga cabe rawit memang melambung. Dari akhir Januari masih Rp14.417 sepekan kemudian hingga Rp18.883 dan akhir Pebruari (25/2) menjadi Rp19.125. ”Cabe rawit komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan inflasi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) Mariadi Mardian kepada wartawan, Senin (3/3) petang di kantornya.
Laju inflasi di kota Mataram selama sebulan terakhir, Pebruari 2008 mencapai 1,09 persen. Ini menjadikan Mataram berada di urutan ke-14 dari 45 kota se Indonesia yang menghitung indeks harga konsumen (IHK). Inflasi di Mataram ini tertinggi diantara tiga kota di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Inflasi di Denpasar hanya 0,47 persen dan Kupang mengalami deflasi 0,37 persen.
Dari 111 komoditas yang menyumbang inflasi di kota Mataram, cabe rawit berada di urutan teratas mencapai 0,4676 karena persentase perubahan harganya 96,6736. Disusul harga tempe yang sumbangan inflasinya 0,2029 walaupun persentase perubahan harganya hanya 21,9458. Di urutan ketiga adalah minyak goreng yang sumbangan inflasinya 0,1861 persen.
Mariadi ketika menjelaskan didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Sumarwiyanto mengatakan bahwa sebenarnya, terjadinya inflasi di kota Mataram selama bulan Pebruari 2008 lalu dipicu kenaikan harga lima indeks kelompok barang dan jasa yaitu bahan makanan sebesar 2,28 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,87 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,89 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.
Satu indeks kelompok barang dan jasa mengalami penurunan yaitu kelompok sandang sebesar 0,66 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan.(supriyantho khafid)

