MATARAM - Rapat Tim Pilkada Golkar Pusat dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menghasilkan pejabat lama Gubernur Lalu Serinata yang juga Ketua DPD Golkar NTB memenangkan pemilihan bakal calon untuk maju dalam pemilihan gubernur yang akan berlangsung 7 Juli 2008 nanti. Dari 96 suara yang ditetapkan dalam pemilihan di Hotel Novotel Serenting Kuta Lombok Tengah, Kamis (21/2) malam, Serinata mengumpulkan 64 suara menyisihkan empat orang peserta bakal calon dilingkungan kader Golkar.
Berlangsung selama satu jam setelah pembukaan oleh Wakil Ketua Umum DPP Golkar Agung Laksono, pemilihan yang berakhir pukul 23.30 Waktu Indonesia Tengah diikuti oleh sembilan DPD Golkar se NTB ditambah organisasi sayap partai dan suara DPP. Walikota Mataram Moh.Ruslan yang juga Ketua DPD Golkar Mataram mendapatkan 16 suara, mantan Ketua DPD Golkar NTB Mesir Suryadi (6), Bupati Bima Ferry Zulkarnain (5) dan Direktur Utama Lombok Post Ismail Husni (5).
Lalu Serinata yang pada pemilihan gubernur periode 2003-2008 diajukan oleh Partai Persatuan Pembangunan berasal dari etnis Lombok masih akan memilih calon wakil gubernur pendampingnya, yang dipastikan berasal dari pulau Sumbawa. Golkar juga akan membuka koalisi dengan partai lain, diantaranya Partai Bintang Reformasi yang memiliki basis jamaah Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Anjani Lombok Timur. Pasangan mereka ini dipastikan akan bersaing dengan calon Partai Bintang Bulan (yang memiliki basis Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor)-Partai Keadilan Sejahtera Tuan Guru Bajang Kiyai Haji Zainul Majdi-Badrul Munir dan calon Partai Persatuan Pembangunan Zaini Arony-Nurdin Ranggabarani.
Agung Laksono sewaktu berbicara pada acara pembukaan, mengemukakan selama tahun 2008 ini ada belasan daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah (pilkada). Mulai dari Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur dan Maluku. Diakuinya bahwa kalau ada kader Golkar yang kalah dalam pilkada, bukan karena ketidak mampuan calon lawan yang lebih besar. Tapi karena adanya masalah mesin politik partai. ”Mudah-mudahan calon Golkar mampu memenangkannya. Pasti bisa kalau mau melaksanakan mesin partai,” katanya. Menurutnya faktor perpecahan internal Golkar sudah lewat.
Dikatakan bahwa pilkada cukup banyak menyita waktu dan pikiran karena adanya rivalitas tersendiri dalam penyalonan yang dibumbui rekayasa. Juga ditengarai adanya pelanggaran yang membuat keruh suasana. ”Pemilihan ini mempunyai potensi yang menimbulkan konflik,” ucapnya.(supriyantho khafid)


