MATARAM - Meskipun proyek batas negara antar Malaysia (Sabah dan Sarawak) dan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) sudah dikerjakan sejak 1975, dan telah selesai 2001, melalui 19 kesepahaman (MOU) dengan 28 peta masih terdapat beberapa sektor yang belum mendapatkan kesepakatan bersama. Ini disebabkan adanya kawasan yang mempunyai Outstanding Boundary Problems.
Ketua Setia Usaha (Sekretaris Jenderal Kementerian Sumber Asli dan Alam Sekitar Malaysia Datuk Suboh bin mohd.Yassin mengemukakannya dalam pembukaan sidang ke32 The Joint Indonesia ? Malaysia, di Hotel Jayakarta Senggigi Lombok, Selasa (19/2). ”Saya berharap kedua negara segera dapat menyelesaikannya,” kata Datuk Suboh.
Ia mengatakan bahwa di sektor Kalimantan Timur - Sabah sudah dilakukan pengukuran sejauh 218,4 kilometer yang menempatkan 2.661 tanda batas diantaranya 1.498 rusak dan hilang. Sedangkan di sektor Kalimantan Barat ? Sarawak sejauh 112,4 kilometer yang dipasangi 548 tanda batas diantaranya 27 rusak dan hilang. Dari empat kali pertemuan sudah dihasilkan delapan peta yang disetujui.
Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri Diah Anggraeni pun berharap batas darat segera terselesaikan. Pertemuan tahunan dilaksanakan untuk evaluasi termasuk tugu batas darat diantaranya ada yang perlu diperbaiki. ”Masih diperlukan pekerjaan investigation, refixation and maintenance terhadap tugu yang rusak dan hilang,” ujar Diah Anggraeni.
Ia kemudian menyarankan tahun ini bisa dilakukannya pembahasan Outstanding Boundary Problems dimulai dari sektor Kalimantan Timur-Sabah. Panjang perbatasan darat Indonesia - Malaysia di pulau Kalimantan ini seluruhnya mencapai 2.004 kilometer, diantaranya sepanjang 966 kilometer berada di wilayah Kalimantan Barat.
Mengenai adanya isu keanggotaan Askar Wataniah di perbatasan tersebut, baik Datuk Suboh maupun Diah Anggraeni menolak untuk membicarakannya. Alasan mereka, bukan merupakan urusannya.
Wakil Ketua Badan Persiapan Pengembangan Kawasan Khusus (BP2KK) Kalimantan Barat Cornelius Kimha yang bersama Kepala Bidang Administrasi dan Hubungan Antar Lembaga BP2KK Kalimantan Barat Jarvid Dj R kepada wartawan, menyatakan kemungkinan benar dan tidak benar adanya warga Indonesia terdaftar sebagai Askar Wataaniah. Sebab, di sepanjang perbatasan tersebut adalah berdiam warga suku Dayak yang memiliki hubungan kekeluargaan.Ini terjadi sejak zaman belum merdeka. ”Banyak asal Indonesia yang telah menjadi warga Malaysia,” kata mereka. Bahkan tidak hanya menjadi anggota Askar Wataniah tetapi juga menjadi pejabat di negeri seberang tersebut.(supriyantho khafid)

