MATARAM - Tiba-tiba dusun Bumpas Timur dan dusun Bumpas Barat dipenuhi pemuda-pemudi asal Australia dan berbagai daerah di Indonesia. Mereka yang tinggal menginap di rumah-rumah penduduk di dusun yang terletak di Desa Segerongan Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ada membangun bak sampah, membuat lapangan bulu tangkis, mengajar bahasa Inggris kepada murid-murid sekolah dan juga mengisi kegiatan seni budaya yang dipertontonkan kepada warga desa.
Itulah kesibukan 18 orang pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dan 18 orang lainnya berasal dari Australia yang berlangsung selama dua bulan di kota Mataram dan sekitarnya. Selama tiga pekan pertama di Lombok, tepatnya 18 Desember 2007 lalu hingga 10 Januari 2008, mereka berada di Segerongan. Luar biasa respon masyarakat di pedesaan. Ada komunikasi walau ada kendala bahasa,” kata Kepala Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Nusa Tenggara Barat (PLSPO-DIKPORA NTB) Yunan HS.
Sebelumnya, selama dua bulan mulai Oktober 2007 para peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Australia (PPIA) yang disponsori oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia ini berada di Melbourne dan Mildura (Victoria). ”Kami di sana melakukan kegiatan pertukaran budaya memperkenalkan kesenian dari 17 daerah provinsi yang memberangkatkan pesertanya,” kata Nobert Leatemea, 21 tahun, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Patimura, anak dari pasangan seorang pegawai RSU Dr.M Hau Lussy Ambon Jemmy Letemia - Grace Nunumete.
Tidak hanya itu, Nobert mengatakan bahwa dirinya juga memperoleh kesempatan magang bekerja di kantor yang diminatinya. Karena ia mahasiswa FKIP maka dipilihnya sekolah. Itu dilakukan selama empat hari Selasa-Jum?at. Pada hari Senin, merupakan kegiatan kebudayaan dan Sabtu-Ahad adalah Family Day yang merupakan kegiatan akhir pekan bersama orang tua angkat. ”Saya bisa ketemu orang yang berbeda dan saling menimba pengetahuan,” katanya. Diantaranya, selama di Lombok bisa mengenal budaya Sasak.
Selama di Segerongan, Nobert, menginap di rumah keluarga pasangan Akmal - Fatimah, petani di Bumpas Timur. Setelah di Mataram, ia menginap di rumah seorang purnawirawan TNI AD Sutejo NS di BTN Babakan. Ketika di Australia, sewaktu di Melbourne tinggal bersama keluarga Peter Gebert dan di Mildura bersama keluarga Chris Oxley.
Kini hingga 6 Pebruari nanti, selama di Mataram bersama Ross Tapsell asal Sidney Australia setiap hari ngepos sebagai jurnalis magang di Humas Pemerintah Provinsi NTB. Demikian pula dengan Roos Tapsell, 26 tahun, sarjana jurnalistik yang kini menjalani pendidikan pasca sarjana jurusan Sejarah di Universitas Wollongong Sidney Australia. Ia yang sudah empat kali ke Indonesia, terakhir magang di Jakarta Post mengaku senang mengikuti PPIA. ”Saya mau belajar bahasa Indonesia,” ujarnya. Sebab, ketika magang di Jakarta Post, ia tinggal bersama warga Australia dan hanya bercakap dalam bahasa Inggris. Di Mataram, ia magang bersama Nobert di koran lokal Lombok Post. ”Di sini berbahasa Indonesia. Sulit, tapi saya senang mendapatkan pengalaman,” katanya. Apalagi, ketika harus berbicara dengan ibu angkatnya, Fatimah di Dusun Bumpas Timur yang hanya bisa berbahasa daerah, Sasak.
Selama di Lombok, mereka dibawah kordinasi Taufik - staf Sub Dinas PLSPO-DIKPORA NTB. Kehadiran 36 orang pemuda Indonesia - Australia tersebut, disebutnya guna meningkatkan persahabatan dan saling pengertian. Di sinilah kesempatan yang luas untuk saling mengenal adat istiadat, sosial ekonomi. ”Sangat bagus sekali pandangan mereka,” ucapnya.(supriyantho khafid)


