MATARAM - Salat gaib dilakukan warga kota Mataram dan sekitarnya setelah mendengar berita meninggalnya bekas Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto, Ahad (28/1) siang. Masyarakat melakukannya di masjid-masjid lingkungan pemukiman masing-masing. Sedangkan di kalangan pegawai negeri sipil, salat gaib juga dilakukan setelah apel pagi di masjid di lingkungan kantor masing-masing. Adapula yang melaksanakannya setelah salat Dzuhur. Bendera setengah tiang dipasang di setiap kantor pemerintah dan rumah penduduk.
Semalam, setelah salat maghrib, di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram, dipimpin oleh Tuan Guru Haji Mustiadi Abhar, dilakukan salat gaib yang diikuti para jamaah ba?da maghrib. Sekretaris Ponpes Darul Falah Fairuzzabadi mengatakan bahwa mudah-mudahan seluruh amal ibadah diterima di sisi Allah. ”Dan perbuatan kesalahannya diampuni Allah. Ingatlah akan kebaikan dan lupakan keburukan,” ujarnya.
Di kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sekretaris Daerah NTB Abdul Malik setelah menjadi pembina upacara pagi, di depan karyawan juga mengajak salat gaib bersama di Masjid Al Amin di lingkunan Sekretariat Daerah. ”Mari kita mendoakan Pak Harto agar dilapangkan jalannya dan diterima di sisi Allah,” katanya.
Selanjutnya Pemerintah Provinsi NTB, menurut Kepala Bagian Humas Pemprov NTB Ibnu Salim mengutip permintaan Gubernur NTB Lalu Serinata yang sedang di Jakarta, juga menyerukan warga untuk memasang bendera merah putih setengah sebagai tanda berkabung. ”Juga diharapkan seberapapun besarnya kesalahan dan kekurangan Pak Harto, hendaknya dimaafkan,” ucapnya.
Salat gaib juga dilakukan karyawan Badan Komunikasi dan Informasi Daerah NTB di kantornya, selesai salat Dzuhur yang waktunya bersamaan dengan pemakaman Soeharto di Astana Giri Bangun. Salat dipimpin oleh Sekretaris BIKD Haji Burhanudin dan diikuti oleh Kepala BIKD Haji Lalu Bakri selaku jamaah.(supriyantho khafid)


